Masih Ketergantungan Impor Minyak, Bahlil: Kalau Ada Perang, RI Bisa Lumpuh

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan skenario terburuk dibalik ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak di tengah kondisi geopolitik global yang kian tidak menentu.
Bahlil mengungkapkan, produksi atau lifting minyak nasional dalam satu dekade terakhir belum mampu mencapai target signifikan.
“Jadi target APBN kita 10 tahun terakhir baru tercapai 605 ribu baral per day. Kalau ditanya pertanyaannya, apakah ada penemuan baru? Belum,” kata Bahlil dalam Kuliah Umum Media Indonesia, Kamis (12/2/2026).
Di sisi lain, konsumsi minyak nasional terus meningkat dan kini telah mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 1 juta barel per hari harus dipenuhi melalui impor.
Baca Juga: Bahlil Ungkap Alasan Pangkas Produksi Batu Bara 2026
Menurut Bahlil, kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada 1996–1997 ketika Indonesia masih mampu mengekspor sekitar 1 juta barel per hari. “Nah kalau seperti ini modelnya, gimana kita bicara tentang swasembada,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ketua Partai Golkar ini pun mengingatkan, ketergantungan impor energi sangat berisiko di tengah potensi konflik global dan gangguan rantai pasok internasional.
Terlebih, kata Bahlil daya tahan cadangan energi nasional saat ini dinilai masih terbatas atau berada dikisaran 21 hari.
“Cadangan ketahanan Energi kita cuma 21 hari. Cukup perang, tidak ada kapal yang masuk, 17 hari sudah Wa Yamna Unal Maun [Dan Tiada Pertolongan], lampu semua mati, tinggal batu bara. Mobil-mobil [mati] kecuali mobil pakai batu bara, pakai nikel," tutur Bahlil.
Karena itu, Bahlil menegaskan pemerintah tidak bisa bersikap pasif menghadapi kondisi tersebut. Ia menilai peningkatan lifting minyak merupakan langkah yang tidak terhindarkan.
Salah satu strategi yang ditempuh untuk mendongkrak produksi adalah melibatkan pengelolaan sumur minyak rakyat.
Kementerian ESDM mencatat, hingga saat ini terdapat 45.095 sumur rakyat yang telah diinventarisasi sebagai bagian dari potensi peningkatan produksi nasional.
Di samping itu, pemerintah juga mendorong optimalisasi teknologi di sektor hulu migas, termasuk melalui penerapan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) di sejumlah lapangan untuk meningkatkan perolehan minyak.
"Sumur-sumur yang sudah lama ini kita suntik pakai teknologi. Nggak ada cara lain, EOR salah satu di antaranya," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









