Akurat

Menanti Ramadan 1447 H Saat Harga Cabai Kian Menyala!

Andi Syafriadi | 16 Februari 2026, 18:19 WIB
Menanti Ramadan 1447 H Saat Harga Cabai Kian Menyala!

AKURAT.CO Hari itu, di papan harga pasar, angka-angka ditulis ulang.

Cabai rawit merah mulai hari ini menyala menjadi Rp76.300 per kilogram.

Angka tersebut bukan sekadar coretan spidol. Ia adalah refleksi data resmi pemantauan harga pangan nasional awal Februari 2026. Di sejumlah wilayah lain, harga cabai rawit memang masih berada di kisaran Rp69.000 per kilogram.

Namun menjelang Ramadan 1447 Hijriah, komoditas ini kembali menjadi perhatian.

Mengutip hasil data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis resmi awal Februari 2026 mencatat bahwa pada Januari 2026 terjadi deflasi bulanan (month-to-month) sebesar -0,15%. Deflasi terutama dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Baca Juga: Jelang Ramadan, Harga Cabai Masih Tinggi

Secara agregat, data tersebut menunjukkan pasokan relatif terjaga pada awal tahun.

Namun pada saat yang sama, inflasi tahunan (year-on-year) Januari 2026 tercatat sebesar 3,55%. Artinya, dibandingkan Januari 2025, harga barang dan jasa secara umum masih mengalami kenaikan.

Di sinilah dua angka itu berdiri berdampingan yakni deflasi bulanan dan inflasi tahunan.

Cabai, Telur dan Ayam, 3 Angka Komoditas Bergerak Tak Serempak

Dalam rincian BPS Januari 2026, sejumlah komoditas pangan tercatat memberikan andil deflasi bulanan:

Cabai merah: -0,16%

Cabai rawit: -0,08%

Bawang merah: -0,07%

Daging ayam ras: -0,05%

Data tersebut menunjukkan penurunan harga dibanding bulan sebelumnya.

Namun dinamika harga pangan tidak hanya dibaca dari satu bulan. Pada Desember 2025, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Kelompok volatile food menyumbang sekitar 0,45 poin persentase terhadap inflasi bulanan saat itu.

Komoditas yang tercatat memberikan kontribusi tekanan harga antara lain cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah. Tiga komoditas yang juga memiliki bobot signifikan dalam konsumsi rumah tangga.

Baca Juga: Harga Cabai Merah Tembus Rp41.000 per Kilogram di Awal Pekan

Pergerakan harga pangan memang tidak selalu linear. Faktor musim panen, distribusi, biaya logistik, serta peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan turut memengaruhi dinamika harga di lapangan.

Bagaimana di Daerah?

Tekanan harga juga terlihat di sejumlah wilayah.Berdasarkan rilis BPS daerah, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,62%. Komoditas penyumbang utama antara lain beras, telur ayam ras, minyak goreng, dan cabai rawit.

Data regional ini menunjukkan bahwa dinamika harga tidak seragam antar wilayah. Struktur pasokan, kondisi distribusi, serta ketergantungan terhadap sentra produksi turut menentukan pergerakan harga di daerah.

Menjelang Ramadan, pola konsumsi rumah tangga umumnya meningkat, terutama pada kelompok makanan dan minuman. Dalam struktur pengeluaran rumah tangga nasional, kelompok makanan dan minuman masih menjadi salah satu komponen terbesar.

Karena itu, setiap perubahan harga pada komoditas utama seperti beras, cabai, telur, dan ayam ras akan langsung tercermin dalam pengeluaran rumah tangga.

Antara Deflasi Bulanan dan Inflasi Tahunan

Deflasi -0,15% pada Januari 2026 menjadi salah satu deflasi bulanan terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Secara statistik, hal itu mencerminkan penurunan harga dibanding Desember 2025.

Namun inflasi tahunan 3,55% menunjukkan bahwa secara umum harga masih lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam konteks ini, pergerakan harga menjelang Ramadan tidak hanya ditentukan oleh kondisi satu bulan, tetapi juga oleh tren tahunan serta ekspektasi permintaan yang meningkat.

Bank Indonesia dan pemerintah menargetkan inflasi berada dalam kisaran sasaran 2,5% ±1%. Angka 3,55% masih berada dalam rentang tersebut, meski mendekati batas atas.

Oleh karena itu, dalam rangka mengantisipasi gejolak harga menjelang Ramadan 2026, pemerintah menetapkan target Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton, meningkat dari target sebelumnya 3 juta ton.

Cadangan ini menjadi instrumen stabilisasi harga melalui operasi pasar dan intervensi distribusi jika terjadi lonjakan harga signifikan.

Beras memiliki bobot besar dalam pembentukan inflasi pangan. Karena itu, penguatan cadangan menjadi salah satu kebijakan utama menjaga stabilitas harga.

Namun stabilitas harga tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok. Distribusi, kelancaran logistik, serta faktor cuaca tetap menjadi variabel yang memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Ramadan dan Pola Konsumsi

Secara historis, Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi rumah tangga. Permintaan terhadap bahan pangan cenderung naik untuk kebutuhan sahur, berbuka, serta persiapan Idulfitri.

Dalam struktur PDB Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh pembentukan ekonomi nasional.

Hal tersebut mengindikasikan, pergerakan harga pangan tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga pada dinamika pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan harga pada komoditas dengan frekuensi konsumsi tinggi seperti cabai, telur, ayam, dan beras memiliki dampak langsung terhadap pengeluaran rutin.

Data inflasi Januari 2026 menjadi indikator awal kondisi harga menjelang periode konsumsi puncak Ramadan.

Antara Stok dan Permintaan, Mana yang Lebih di Dahulukan?

Deflasi bulanan Januari menunjukkan tekanan harga relatif mereda dibanding bulan sebelumnya. Namun harga cabai rawit yang masih berada di atas Rp70.000 per kilogram menunjukkan bahwa volatilitas komoditas hortikultura tetap ada.

Komoditas hortikultura seperti cabai sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan distribusi. Perubahan pasokan dalam waktu singkat dapat mendorong pergerakan harga yang signifikan.

Di sisi lain, penguatan cadangan beras menjadi sinyal bahwa pemerintah menyiapkan bantalan stabilisasi.

Menjelang Ramadan 1447 H, dinamika harga pangan akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan yang tersedia dan peningkatan permintaan musiman.

Pada awal 2026, data menunjukkan kondisi inflasi yang masih dalam sasaran pemerintah, disertai deflasi bulanan pada kelompok pangan.

Namun harga komoditas tertentu seperti cabai rawit tetap berada pada level tinggi di sejumlah wilayah.

Angka-angka tersebut menjadi penunjuk arah bagi pelaku pasar, pembuat kebijakan, dan rumah tangga dalam menyusun strategi menjelang Ramadan.

Karena di balik suasana persiapan bulan puasa, data inflasi dan harga pangan tetap menjadi indikator utama stabilitas ekonomi domestik.

Ramadan selalu datang membawa tradisi dan peningkatan konsumsi. Sementara itu, angka-angka statistik terus mencatat pergerakan harga dari gudang penyimpanan hingga meja makan.

Dan pada awal 2026, angka-angka itu menunjukkan satu hal yakni stabilitas makro masih terjaga, namun dinamika komoditas tetap bergerak mengikuti musim dan permintaan.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.