Kementan Taksir Cabai Rawit Surplus 99 Ribu Ton di Maret 2026, Cabai Besar Surplus 11 Ribu Ton
Esha Tri Wahyuni | 20 Februari 2026, 04:54 WIB

AKURAT.CO Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok cabai nasional dalam kondisi aman dan surplus menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H/2026.
Kepastian ketersediaan cabai ini menjadi perhatian utama pemerintah mengingat komoditas cabai kerap memicu lonjakan harga pangan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Melalui penguatan produksi, pemantauan sentra hortikultura, serta koordinasi lintas sektor, pemerintah menargetkan stabilitas pasokan dan harga cabai tetap terjaga hingga Lebaran 2026.
Proyeksi neraca pangan nasional bahkan menunjukkan surplus signifikan untuk cabai rawit dan cabai besar pada Februari–Maret 2026, memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah potensi kenaikan permintaan.
Surplus Cabai Februari–Maret 2026 Capai Puluhan Ribu Ton
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Muhammad Taufiq Ratule, menegaskan pemerintah hadir aktif menjaga ketersediaan pangan strategis. Ia menyebut penguatan produksi nasional dan pemantauan intensif di sentra utama menjadi kunci menjaga stabilitas pasokan cabai selama Ramadhan dan Idul Fitri.
“Kami memastikan produksi dan pasokan cabai nasional berada dalam kondisi aman dan terkendali. Melalui penguatan produksi, kelancaran distribusi, serta pengawalan harga, kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri dapat terpenuhi dengan baik,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Berdasarkan proyeksi neraca pangan, cabai rawit diperkirakan surplus sekitar 54 ribu ton pada Februari 2026 dan meningkat menjadi 99 ribu ton pada Maret 2026. Sementara cabai besar mencatat surplus masing-masing 14 ribu ton pada Februari dan 11 ribu ton pada Maret 2026.
Produksi Ditopang Sentra Jawa hingga NTB
Produksi cabai nasional pada periode tersebut didukung luas panen puluhan ribu hektare yang tersebar di berbagai sentra produksi. Wilayah utama mencakup Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat.
Pola panen dilakukan bertahap dan berkelanjutan untuk memastikan distribusi tidak terputus. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan, Muh. Agung Sunusi, menyebut pihaknya telah melakukan kunjungan langsung ke sentra produksi seperti Garut, Sumedang, Bandung, dan Lombok Timur.
“Hasil pemantauan menunjukkan pertanaman cabai tumbuh sehat dan panen tetap berlangsung meski ada tantangan anomali iklim dan organisme pengganggu tumbuhan. Stok di sentra utama terpantau aman hingga Idul Fitri,” kata Agung.
Gelar Pasar dan Harga di Bawah HAP
Untuk menjaga keterjangkauan harga cabai di tingkat konsumen, Kementan menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah daerah sentra produksi, Badan Pangan Nasional (Bapanas), asosiasi petani, serta champion cabai. Koordinasi difokuskan pada penguatan produksi, distribusi antarwilayah, dan sosialisasi Harga Acuan Produsen (HAP).
Sebagai tindak lanjut, Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) menggelar pasar cabai murah di berbagai daerah sentra produksi. Ketua ACCI, Ardi, menegaskan komitmen menjaga stabilitas pasokan sekaligus memastikan harga layak bagi petani.
“Kami berkomitmen menjaga stabilitas pasokan dan kualitas produksi. Harga di tingkat petani harus memberi margin yang layak agar usaha tani berkelanjutan. Harga wajar bukan hanya melindungi petani, tetapi juga menjamin keberlanjutan pasokan nasional,” ujarnya.
Gelar pasar cabai telah dilaksanakan di Banjarnegara, Sleman, Magelang, Semarang, Cianjur, Bandung, Garut, Sumedang, Enrekang, hingga Lombok Timur. Dalam kegiatan tersebut, cabai rawit merah dijual Rp50.000 per kilogram, lebih rendah dari HAP Rp57.000 per kilogram.
Update Harga Cabai Nasional
Berdasarkan Panel Harga Pangan per 19 Februari 2026 pukul 13.56 WIB, harga cabai merah keriting tercatat Rp46.990 per kilogram, cabai merah besar Rp43.537 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp76.186 per kilogram di tingkat produsen secara nasional.
Data tersebut menunjukkan disparitas harga masih terjadi, terutama pada cabai rawit merah. Namun, dengan proyeksi surplus produksi dan intervensi pasar melalui gelar cabai murah, pemerintah optimistis gejolak harga menjelang Ramadhan 2026 dapat ditekan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








