Bulog Pastikan Stok Beras 3,2 Juta Ton Aman Jelang Ramadan 2026

AKURAT.CO Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Total stok yang tersedia di gudang Bulog saat ini mencapai 3,2 juta ton dan masih terus bertambah.
“Kalau beras, alhamdulillah masih 3,2 juta ton. Bahkan sekarang (stoknya) nambah, sampai dengan hari ini sudah nambah lebih kurang sekitar 100.000 ton,” ujar Rizal di Jakarta, Minggu (21/2).
Baca Juga: Harga Cabai Kian Menyala di Bulan Ramadan, Begini Kata Bulog!
Dalam satu bulan terakhir, tepatnya periode Januari 2026, tambahan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tercatat sekitar 100.000 ton. Penambahan ini berasal dari program serapan gabah dan beras petani dalam negeri.
Menurut Rizal, angka tersebut mencerminkan percepatan penyerapan produksi domestik yang tengah memasuki masa panen awal tahun.
“Ini berkat kerja sama seluruh petani dan teman-teman di lapangan untuk menyerap gabah yang kemudian kami olah menjadi beras,” katanya.
Dengan stok di atas 3 juta ton, posisi cadangan pemerintah saat ini relatif kuat dibandingkan kebutuhan intervensi pasar pada periode HBKN sebelumnya yang rata-rata berkisar 150–250 ribu ton untuk operasi pasar dan stabilisasi harga.
Distribusi Minyakita 30 Ribu KL per Bulan
Selain beras, Bulog juga memastikan distribusi Minyakita berjalan sesuai skema Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 35% dari produksi nasional.
Sejak 1 Januari 2026, penyaluran dilakukan langsung oleh BUMN pangan tanpa melalui distributor. Minyakita dikirim dari gudang Bulog ke pasar Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Baca Juga: DMO 35 Persen Berlaku, Harga MinyaKita Ditarget Turun Awal Februari
Harga ditetapkan Rp14.500 per liter dari gudang dan dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Bulog menyiapkan stok 30.000 kiloliter per bulan untuk menjaga pasokan.
“Skema ini memberikan margin yang wajar bagi pengecer sekaligus menjaga harga tetap stabil di tingkat konsumen,” ujar Rizal.
Sebagai informasi, Ramadan dan Idul Fitri secara historis menjadi periode dengan lonjakan konsumsi pangan 10–20% dibanding bulan normal, terutama untuk komoditas beras dan minyak goreng.
Apalagi pada periode HBKN tahun-tahun sebelumnya, tekanan harga kerap muncul akibat kenaikan permintaan dan gangguan distribusi.
Stok CBP yang memadai menjadi instrumen utama pemerintah untuk intervensi pasar melalui operasi pasar dan bantuan pangan. Posisi stok 3,2 juta ton memperkuat ruang stabilisasi harga jika terjadi gejolak.
Bagi masyarakat, kepastian stok dan harga sesuai HET menjadi faktor krusial dalam menjaga daya beli selama Ramadan. Bagi pasar, ketersediaan cadangan besar berpotensi meredam spekulasi dan tekanan harga di tingkat pedagang.
Dengan distribusi langsung ke SP2KP, pemerintah juga berupaya memotong rantai pasok agar disparitas harga antarwilayah dapat ditekan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









