Akurat

Kebut Hilirisasi, Mentan Bakal Sebar Rp40 Triliun Anggaran Untuk Daerah

Yosi Winosa | 19 Januari 2026, 22:44 WIB
Kebut Hilirisasi, Mentan Bakal Sebar Rp40 Triliun Anggaran Untuk Daerah

AKURAT.CO Pemerintah pusat mempercepat agenda hilirisasi pertanian sebagai strategi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan pendapatan petani. 

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, kabupaten dan kota menjadi aktor kunci dalam menjalankan hilirisasi, terutama untuk komoditas bernilai tinggi seperti kelapa, kakao, dan kacang mete. 
 
Untuk mendukung langkah tersebut, Kementerian Pertanian menyiapkan anggaran hingga Rp40 triliun yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah.
 
Kebijakan ini dinilai sejalan dengan upaya memperkuat ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, serta mendorong Indonesia naik kelas dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk olahan bernilai tinggi di pasar global.

Daerah Jadi Ujung Tombak Hilirisasi Pertanian

Mentan Amran menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada kesiapan dan kepemimpinan pemerintah daerah, khususnya bupati dan wali kota. Menurutnya, pemerintah pusat telah menyiapkan skema pendanaan yang besar, namun implementasi sepenuhnya berada di tangan daerah.
 
 
"Anggaran Rp40 triliun tersebut memang dirancang agar langsung menyentuh kebutuhan kabupaten dan kota," ujarnya di Jakarta, Senin (19/1/2026).
 
Pemerintah daerah dinilai paling memahami potensi komoditas unggulan di wilayahnya masing-masing.

Contoh Nyata: Hilirisasi Kelapa Dongkrak Nilai Ekonomi

Amran mencontohkan hilirisasi kelapa di Maluku Utara sebagai bukti konkret dampak positif pengolahan pascapanen. Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen kelapa terbesar di dunia, namun sebagian besar ekspor masih berupa kelapa gelondongan.
 
Sebelum hilirisasi, nilai ekspor kelapa Indonesia tercatat sekitar Rp24 triliun. Setelah diolah menjadi produk turunan, nilainya berpotensi melonjak drastis hingga Rp896 triliun, mencerminkan besarnya peluang ekonomi yang selama ini belum dimaksimalkan.

Pergeseran Tren Global Buka Peluang Baru

Selain faktor produksi, Amran juga menyoroti perubahan tren konsumsi global yang menguntungkan komoditas kelapa. Sejumlah negara, termasuk China, mulai mengalihkan konsumsi dari susu sapi ke produk berbasis kelapa seperti coconut milk dan coconut oil.
 
Pergeseran ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap produk yang dianggap lebih sehat dan berkelanjutan. Kondisi tersebut membuka peluang ekspor baru bagi Indonesia jika mampu memperkuat industri hilir di dalam negeri.

Kakao, Mete, hingga Gambir Masuk Prioritas

Tak hanya kelapa, Mentan Amran menyebut kakao, kacang mete, dan gambir sebagai komoditas lain yang memiliki nilai tambah tinggi jika dikembangkan melalui hilirisasi. Komoditas-komoditas tersebut memiliki permintaan global yang kuat dan potensi margin yang besar.
 
Hilirisasi dinilai menjadi kunci untuk mengangkat kesejahteraan petani, sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga.

Bupati dan Wali Kota Diminta Proaktif Ajukan Program

Dalam forum Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Batam, Amran secara terbuka meminta kepala daerah untuk aktif mengusulkan program hilirisasi yang benar-benar siap dijalankan.
 
Dirinya menegaskan, program yang diusulkan harus berbasis kebutuhan riil dan memiliki komitmen kuat dalam pelaksanaannya. Kepemimpinan daerah dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan, bukan sekadar dukungan dari pusat.
 
Dorongan hilirisasi pertanian dengan dukungan anggaran besar menandai keseriusan pemerintah dalam membangun ekonomi berbasis nilai tambah. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan perubahan tren global, daerah berpeluang menjadi motor pertumbuhan baru. 
 
Jika dijalankan konsisten, hilirisasi bukan hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mempercepat langkah Indonesia menuju Indonesia Emas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa