Akurat

RDMP Balikpapan Diresmikan, Bahlil Ungkap Drama di Baliknya

Yosi Winosa | 12 Januari 2026, 19:54 WIB
RDMP Balikpapan Diresmikan, Bahlil Ungkap Drama di Baliknya

AKURAT.CO Pemerintah meresmikan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Senin (12/1/2026) setelah beberapa kali proyek ini mengalami penundaan peresmian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkap, adanya sejumlah persoalan serius dalam pelaksanaan RDMP, termasuk dugaan unsur kesengajaan yang menghambat penyelesaiannya.

“Proyek RDMP ini, Bapak Presiden, banyak dramanya. Saya harus jujur katakan banyak dramanya,” kata Bahlil dalam peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Bahlil menambahkan, RDMP sejatinya ditargetkan rampung pada awal Mei 2024. Namun, realisasi proyek mengalami keterlambatan akibat insiden kebakaran pada salah satu bagian fasilitas.

Baca Juga: Dirjen Migas: Presiden Prabowo Resmikan RDMP Balikpapan Dalam Waktu Dekat

“Seharusnya (RDMP) sudah jadi tahun 2024 awal bulan, awal Mei 2024. Tapi ini, Pak, terbakar. Ada bagian yang dibakar. Saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar atau dibakar karena ada faktor lain,” tambahnya.

Menindaklanjuti kejadian itu, Bahlil memerintahkan Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM untuk melakukan investigasi mendalam.

Menurut Bahlil, hasil penelusuran menunjukkan adanya kepentingan tertentu yang berpotensi menghambat terwujudnya kemandirian energi nasional.

Ketua Partai Golkar ini menegaskan, masih terdapat pihak-pihak yang tidak menginginkan Indonesia memiliki cadangan energi kuat dan mencapai swasembada energi, sehingga ketergantungan terhadap impor terus berlanjut.

“Ternyata barang ini, Pak, ada udang dibalik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita itu mempunyai cadangan dan swasembad energi agar impor terus, impor terus, impor terus,” tutur Bahlil.

Adapun, RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis nasional yang dibangun sejak 2019, menjadi tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur energi nasional yang terintegrasi.

Proyek tersebut mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.

Proyek dengan total investasi setara Rp123 triliun ini untuk memodernisasi kilang eksisting, sehingga akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

RDMP Balikpapan dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional.

Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.

Early work menjadi fondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan.

Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung.

Tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.

Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.

Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.

Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.

Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah dari kapal tanker berkapasitas besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.