Akurat

Outlook Neraca Perdagangan 2026: Ekspor Digenjot, Impor Dijaga

Hefriday | 8 Januari 2026, 08:50 WIB
Outlook Neraca Perdagangan 2026: Ekspor Digenjot, Impor Dijaga

AKURAT.CO Sepanjang 2025, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya pulih. Surplus perdagangan yang berlanjut hingga puluhan bulan, kinerja ekspor yang relatif stabil, serta sejumlah perjanjian perdagangan strategis menjadi modal awal bagi Indonesia memasuki tahun 2026.

Meski demikian, tantangan global seperti perlambatan ekonomi dunia dan kecenderungan proteksionisme tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam proyeksi kinerja perdagangan tahun ini.

Surplus Masih Berlanjut

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar USD38,54 miliar secara kumulatif sepanjang Januari–November 2025. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas, seiring nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor.

BPS mencatat, surplus tersebut merupakan kelanjutan tren surplus yang telah berlangsung selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Capaian ini turut berkontribusi terhadap stabilitas eksternal perekonomian nasional di tengah tekanan global.

Baca Juga: BPS: Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Sepanjang 2025

Sejalan dengan itu, Bank Indonesia (BI) dalam sejumlah pernyataannya menilai surplus neraca perdagangan menjadi salah satu penyangga utama ketahanan eksternal Indonesia.

BI menyebut stabilitas neraca perdagangan membantu menjaga keseimbangan transaksi berjalan di tengah volatilitas permintaan global dan fluktuasi harga komoditas. Sinergi kebijakan moneter dan fiskal dinilai berperan dalam menjaga kondisi tersebut.

Memasuki 2026, tren surplus neraca perdagangan dinilai masih berpeluang berlanjut. Namun, kelanjutannya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan permintaan domestik, dinamika harga komoditas global, serta arah kebijakan perdagangan internasional.

Tidak sampai disitu saja, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan target pertumbuhan ekspor Indonesia pada 2026 yang tetap optimistis, meski berada pada level yang relatif moderat. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor sekitar 7,09% pada 2026, sedikit di bawah target 7,1% pada 2025.

Target tersebut merupakan bagian dari peta jalan ekspor jangka menengah Kemendag untuk periode 2025–2029.

Baca Juga: BPS Taksir Produksi Gabah Kering Giling Tembus 60,25 Juta Ton di 2025, Naik 13 Persen

Dalam peta jalan tersebut, nilai ekspor Indonesia ditargetkan mencapai USD315,31 miliar pada 2026, meningkat dari target USD294,45 miliar pada 2025, sebelum kembali meningkat secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya.

Kemendag menilai penetapan target ini mencerminkan peran ekspor sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus upaya pemerintah merespons tantangan global melalui diversifikasi produk dan perluasan pasar ekspor.

Pertumbuhan Ekonomi Menopang Aktivitas Perdagangan

Memasuki tahun 2026 tidak terlepas dari proyeksi makroekonomi. Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5,33% pada 2026, dengan potensi mencapai 5,4% apabila belanja fiskal dapat terealisasi secara optimal.

Proyeksi tersebut mencerminkan masih terjaganya permintaan domestik dan konsumsi rumah tangga, yang berpotensi mendorong aktivitas produksi, investasi, serta perdagangan.

BI menilai pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil akan menjadi faktor pendukung bagi kinerja perdagangan, baik dari sisi ekspor maupun impor.

Meski demikian, perbedaan asumsi proyeksi antara otoritas moneter dan pemerintah menunjukkan bahwa ketidakpastian global tetap menjadi variabel penting yang perlu diantisipasi dalam perumusan kebijakan perdagangan.

Akses Pasar Baru Menuju 2026

Salah satu faktor yang memengaruhi prospek perdagangan Indonesia pada 2026 adalah keberlanjutan perjanjian perdagangan bebas dengan mitra strategis. Sepanjang 2025, Indonesia telah menandatangani dan menyelesaikan sejumlah perjanjian penting, termasuk perjanjian perdagangan bebas dengan Eurasian Economic Union (EAEU).

Perjanjian tersebut membuka akses tarif preferensial ke pasar kawasan Eurasia dengan populasi sekitar 180 juta jiwa. Pemerintah menilai komoditas unggulan Indonesia seperti minyak kelapa sawit, tekstil, alas kaki, produk perikanan, serta sejumlah produk manufaktur berpotensi memperoleh manfaat dari perjanjian tersebut.

Baca Juga: BPS: Ekspor Sawit dan Kopi Melonjak, Sektor Tambang Masih Tertekan

Selain itu, kerja sama perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa juga terus menjadi perhatian. Kedua pihak menargetkan penyelesaian proses negosiasi dan ratifikasi perjanjian perdagangan bebas pada akhir 2026 atau awal 2027.

Perjanjian ini diharapkan dapat memperluas akses pasar Indonesia ke kawasan Eropa dengan skema tarif yang lebih kompetitif, sekaligus mendorong peningkatan investasi.

Pemerintah memandang perjanjian perdagangan tersebut sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk memperluas struktur ekspor nasional dan mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.

Komoditas Ekspor Unggulan dan Hilirisasi

Dari sisi struktur ekspor, komoditas berbasis sumber daya alam masih mendominasi perdagangan Indonesia. Minyak kelapa sawit dan produk turunannya, misalnya, tetap menjadi salah satu penyumbang utama ekspor nasional.

Sejumlah laporan menunjukkan potensi peningkatan permintaan sawit Indonesia dari pasar utama seperti India dan negara-negara Asia lainnya. Penyesuaian kebijakan di Uni Eropa juga dinilai dapat membuka kembali ruang bagi ekspor produk sawit, meski tetap dihadapkan pada isu keberlanjutan.

Selain sawit, produk nikel, besi dan baja, serta produk turunannya juga diproyeksikan tetap menjadi pilar penting ekspor Indonesia pada 2026. Pemerintah terus mendorong kebijakan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk ekspor.

Namun, kinerja ekspor komoditas tersebut akan sangat dipengaruhi oleh harga global, biaya logistik, serta kondisi persaingan internasional.

Baca Juga: BPS: China Masih Jadi Tujuan Ekspor Terbesar RI hingga Nov 2025

Tidak lengkap apabila berbicara tahun 2026 tidak menyertakan sisi perkembangan impor. Seiring meningkatnya aktivitas produksi dan investasi, impor barang modal dan bahan baku diperkirakan tetap menjadi komponen utama impor Indonesia.

Pemerintah menilai impor jenis ini masih diperlukan untuk mendukung kapasitas industri domestik dan proyek-proyek strategis nasional. Namun, ketergantungan terhadap impor bahan baku tetap menjadi perhatian, sehingga strategi substitusi impor dan penguatan rantai pasok domestik terus didorong.

Kebijakan deregulasi dan penyesuaian aturan impor diperkirakan masih akan berlanjut sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara perlindungan industri dalam negeri dan kebutuhan dunia usaha.

Risiko Global dan Strategi Diversifikasi

Meski prospek perdagangan 2026 menunjukkan peluang pertumbuhan, sejumlah risiko global masih membayangi. Ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi di beberapa negara mitra dagang, serta kecenderungan proteksionisme berpotensi memengaruhi arus perdagangan internasional.

Dalam menghadapi risiko tersebut, pemerintah terus mendorong strategi diversifikasi pasar dan produk.

Selain pasar utama seperti China, Amerika Serikat, dan India, kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, serta Eurasia mulai mendapatkan perhatian lebih besar dalam strategi perdagangan Indonesia.

Diversifikasi produk juga diarahkan pada peningkatan ekspor manufaktur dan produk bernilai tambah, sejalan dengan agenda industrialisasi dan hilirisasi.

Secara keseluruhan, Perdagangan Indonesia di tahun 2026 berada dalam kerangka peluang dan tantangan.

Modal berupa surplus neraca perdagangan yang terjaga sepanjang 2025, target ekspor yang terukur, serta perluasan kerja sama perdagangan internasional menjadi faktor pendukung utama.

Namun, ketidakpastian ekonomi global dan tantangan struktural domestik tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Dengan kebijakan yang adaptif, koordinasi lintas kementerian, serta penguatan daya saing produk ekspor, perdagangan Indonesia memiliki ruang untuk menjaga kinerja positif dan memperluas perannya dalam perdagangan global pada 2026.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi