Akurat

Menko Airlangga: Kemandirian Energi Bisa Kurangi Defisit Migas Indonesia

Demi Ermansyah | 2 Juli 2025, 14:30 WIB
Menko Airlangga: Kemandirian Energi Bisa Kurangi Defisit Migas Indonesia

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya percepatan program kemandirian energi nasional. Hal tersebut dinilai menjadi kunci dalam menekan defisit neraca perdagangan sektor migas yang masih menjadi persoalan utama.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (2/7/2025), Airlangga menyebutkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 kembali mencatat surplus sebesar USD4,3 miliar, yang sekaligus menjadi surplus bulanan ke-61 secara berturut-turut. Namun, defisit sektor migas masih membayangi, yakni sebesar USD1,53 miliar.

“Presiden meminta agar program kemandirian energi bisa dilaksanakan. Dengan kemandirian energi, defisit ini bisa kita kurangi secara signifikan,” ujar Airlangga.

Baca Juga: DPR Dorong Reformasi UU Migas Demi Tingkatkan Lifting dan Energi Nasional

Selama Januari hingga Mei 2025, total defisit migas mencapai USD7,72 miliar, sementara surplus dari sektor nonmigas mencapai USD23,10 miliar. Ketergantungan terhadap impor hasil minyak dan minyak mentah menjadi salah satu penyebab utama defisit tersebut.

Dalam upaya mengurangi ketergantungan energi fosil impor, pemerintah terus mendorong transisi energi dan pengembangan energi terbarukan.

Langkah ini, lanjutnya, dinilai sejalan dengan strategi industrialisasi dan hilirisasi sumber daya alam yang tengah dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Peningkatan nilai tambah energi di dalam negeri, baik melalui pengolahan biofuel, pembangunan green refinery, maupun pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT), diharapkan mampu meningkatkan cadangan energi sekaligus memperkuat neraca perdagangan nasional," paparnya.

Baca Juga: DPR Desak Revisi UU Migas Demi Dukung Swasembada Energi Prabowo

Airlangga juga menyampaikan bahwa meski nilai impor total naik 5,45% secara kumulatif, nilai impor migas justru turun 7,44% menjadi USD13,64 miliar. Penurunan ini diharapkan berlanjut seiring akselerasi program kemandirian energi.

“Kita melihat tren yang menggembirakan. Meski PMI Manufaktur melemah akibat tensi global, indikator makro lain seperti inflasi dan surplus perdagangan menunjukkan ekonomi kita tetap resilien,” ujarnya.

Dengan mempercepat kemandirian energi, Indonesia diharapkan mampu mengurangi defisit struktural dan menciptakan perekonomian yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.