Akurat

BPS: Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Sepanjang 2025

Hefriday | 5 Januari 2026, 18:39 WIB
BPS: Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Sepanjang 2025

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat emas perhiasan menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan Indonesia sepanjang 2025. 

Kenaikan ini sejalan dengan tren harga emas global yang terus meningkat hingga penghujung tahun, sehingga berdampak langsung pada pergerakan harga di dalam negeri.
 
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,79% sepanjang 2025. Angka tersebut menjadikan emas sebagai komoditas dengan kontribusi inflasi tahunan paling dominan dibandingkan komoditas lainnya.
 
Tak hanya secara tahunan, emas perhiasan juga tercatat sebagai penyumbang utama inflasi bulanan. "Sepanjang 2025 komoditas ini menjadi kontributor inflasi bulanan sebanyak 11 kali, mencerminkan konsistensi tekanan harga yang berasal dari sektor tersebut," ujarnya di Jakarta, Senin (5/1/2026). 
 
 
Selain emas perhiasan, sejumlah komoditas pangan turut memberikan andil signifikan terhadap inflasi tahunan. 
 
Cabai merah tercatat menyumbang inflasi sebesar 0,18%, disusul ikan segar, cabai rawit, dan beras yang masing-masing memberikan kontribusi 0,15% terhadap inflasi sepanjang tahun.
 
BPS juga mencatat kontribusi inflasi dari komoditas lain, seperti daging ayam ras dan tarif air minum PAM yang masing-masing menyumbang 0,14%. Sementara itu, bawang merah berkontribusi 0,10% dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,06% terhadap inflasi tahunan 2025.
 
"Secara kumulatif hingga Desember 2025, inflasi tahun kalender maupun inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat mencapai 2,92 persen," tambahnya. 
 
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada 2024, meski masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.
 
Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,58% dengan andil inflasi terbesar mencapai 1,33%. Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini meliputi cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras.
 
Kelompok pengeluaran lain yang turut memberikan tekanan signifikan adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mencatat inflasi tahunan sebesar 13,33% dengan andil 0,87%, yang sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan.
 
Di tengah tekanan inflasi tersebut, BPS mencatat adanya kelompok pengeluaran yang justru mengalami deflasi. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi tahunan sebesar 0,28% dengan andil deflasi 0,02% terhadap inflasi nasional.
 
Berdasarkan komponen inflasi, seluruh komponen tercatat mengalami inflasi sepanjang 2025. Komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,21% dengan andil 1,01%, yang dipicu oleh kenaikan harga berbagai komoditas pangan strategis.
 
Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,38% dengan andil terbesar mencapai 1,53%. Komoditas yang memberikan kontribusi utama pada komponen ini antara lain emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, biaya pendidikan tinggi, serta kopi bubuk.
 
Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi tahunan sebesar 1,93% dengan andil 0,38%. Komoditas yang dominan memberikan tekanan inflasi pada komponen ini meliputi tarif air minum PAM yang terjadi di 13 wilayah, sigaret kretek mesin, bensin, serta sigaret kretek tangan.
 
BPS menilai, struktur inflasi 2025 menunjukkan peran besar komoditas global dan pangan dalam memengaruhi pergerakan harga domestik. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa