BPS Taksir Produksi Gabah Kering Giling Tembus 60,25 Juta Ton di 2025, Naik 13 Persen
Yosi Winosa | 5 Januari 2026, 18:32 WIB

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 diperkirakan mencapai 60,25 juta ton GKG. Angka ini tumbuh 13,37% dibandingkan total produksi padi sepanjang tahun 2024, mencerminkan penguatan pasokan beras nasional.
Khusus produksi padi nasional pada November 2025 sendiri ditaksir mencapai 3,2 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 2,83% dibandingkan periode yang sama pada November 2024, seiring dengan perbaikan kinerja sektor pertanian tanaman pangan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan bahwa tren positif produksi padi juga diperkirakan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
"Potensi produksi padi selama periode Desember 2025 hingga Februari 2026 diproyeksikan mencapai 10,81 juta ton GKG atau meningkat signifikan sebesar 32,58 persen dibandingkan Desember 2024 hingga Februari 2025," ujarnya di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Meski demikian, BPS menegaskan bahwa angka produksi tersebut masih bersifat sementara dan potensi. Realisasinya dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan, seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga pergeseran waktu panen petani.
"Selain produksi, luas panen padi juga menunjukkan tren peningkatan. Pada November 2025, luas panen tercatat mencapai 0,57 juta hektare, naik 3,56 persen dibandingkan November 2024," tambahnya.
Kenaikan ini menjadi salah satu faktor pendukung bertambahnya volume produksi padi nasional. Untuk periode tiga bulan selanjutnya, yakni Desember 2025 hingga Februari 2026, potensi luas panen padi diperkirakan mencapai sekitar 2 juta hektare.
Angka tersebut meningkat sekitar 30,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, potensi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 diproyeksikan mencapai 11,33 juta hektare.
Capaian ini tumbuh 12,80% dibandingkan luas panen sepanjang 2024, menandakan aktivitas tanam dan panen yang lebih intensif di berbagai sentra produksi.
BPS kembali mengingatkan bahwa proyeksi luas panen tersebut juga dapat mengalami penyesuaian. Faktor cuaca ekstrem, bencana alam, serta gangguan OPT, termasuk dampak bencana di beberapa wilayah seperti provinsi di Sumatera Utara, berpotensi memengaruhi realisasi panen di lapangan.
Peningkatan produksi dan luas panen ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah di sektor pertanian.
Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah program optimasi lahan untuk mendorong kenaikan produktivitas padi, terutama melalui peningkatan indeks pertanaman pada lahan sawah yang sudah ada.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menegaskan bahwa optimasi lahan menjadi pilihan strategis untuk meningkatkan produksi padi nasional tanpa harus membuka lahan baru. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan dan efisien dari sisi lingkungan maupun anggaran.
Menurut Hermanto, optimasi lahan dilakukan melalui perbaikan dan penguatan infrastruktur pertanian. Upaya tersebut meliputi penyusunan Survei, Investigasi, dan Desain (SID), pembangunan serta rehabilitasi tanggul, pintu air, hingga jaringan irigasi dan drainase di tingkat usaha tani.
Sinergi antara peningkatan produktivitas, perluasan luas panen efektif, serta pengelolaan risiko iklim dan bencana diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi padi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










