Mentan Amran: Tak Ada Tanggal Merah Demi Swasembada Pangan

AKURAT.CO Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan seluruh hari kerja di Kementerian Pertanian diberlakukan sebagai “hari hitam” tanpa libur, sebagai bentuk komitmen pemerintah mempercepat terwujudnya swasembada pangan dan memperkuat ketahanan nasional.
Amran menyampaikan penegasan tersebut saat menghadiri pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2025–2029 di Makassar, Sulawesi Selatan.
Dirinya mengatakan Presiden Prabowo Subianto menargetkan percepatan swasembada pangan dari rencana semula empat tahun, menjadi tiga tahun, hingga akhirnya dipadatkan menjadi satu tahun.
“Dengan target yang sesingkat-singkatnya ini, kami tidak ada tanggal merah, semua tanggal hitam,” ujar Amran dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (17/11/2025).
Baca Juga: Dukung Petani Indonesia, Mentan Amran: Kami Tidak Takut dengan Mafia Pangan!
Menurut Amran, target baru yang diberikan Presiden menjadi tantangan besar sekaligus kesempatan bagi sektor pertanian untuk membuktikan kapasitasnya.
Dirinya menegaskan Kementerian Pertanian tidak mengedepankan retorika, melainkan tindakan nyata.
“Presiden luar biasa. Beliau meminta kami siap dalam satu tahun. Kami tidak biasa bercerita sebelum bertindak, kami bekerja dulu baru bicara,” katanya.
Amran meyakini Indonesia berada di jalur yang tepat menuju swasembada. Sejumlah lembaga internasional disebut mencatat adanya peningkatan signifikan dalam produksi pangan nasional.
Ketua Umum IKA Unhas itu mengungkapkan bahwa perhatian global terhadap pertanian Indonesia semakin besar.
Dirinya mencontohkan Menteri Pertanian Jepang yang untuk pertama kalinya mengunjungi Indonesia guna mempelajari strategi peningkatan produksi nasional.
Baca Juga: Mentan Amran Ditunjuk Jadi Kepala Bapanas Gantikan Arief Prasetyo
“Bukan hanya Jepang, menteri-menteri negara lain pun berdatangan. Ini bukti bahwa kerja dan integritas mampu menghadirkan kepercayaan internasional,” jelas Amran.
Kepercayaan internasional, menurutnya, tidak lahir dari narasi, melainkan dari bukti di lapangan. Ia mengaku rutin menguji kesiapan timnya dalam bekerja langsung bersama petani.
“Tanpa fakta, tidak mungkin kita meyakinkan siapa pun. Saya melihat sendiri mereka on time, bekerja serius, dan siap menembus target,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras periode Januari–Desember 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Angka itu naik 4,14 juta ton atau 13,54% dibanding 2024 yang berada di kisaran 30 juta ton lebih.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga menilai Indonesia berpotensi menjadi produsen pangan terbesar kedua di dunia setelah Brasil.
Sementara itu, lembaga riset Amerika Serikat (USDA) bahkan memprediksi peningkatan produksi beras Indonesia terjadi sebelum musim tanam dimulai.
“Lembaga riset di Amerika (USDA) sudah memprediksi produksi kita naik sebelum ditanam. Kita perlu pelajari metodologi penelitian mereka, luar biasa,” kata Amran.
Di hadapan keluarga besar IKA Unhas, Amran mengajak para alumnus berkontribusi lebih besar dalam pembangunan nasional. Ia menyebut alumni Unhas memiliki kapasitas strategis sebagai motor perubahan.
“Ayo seluruh alumni Unhas, getarkan dunia. Siapkan generasi penerus, latih dan dampingi mereka. Ini legacy besar yang harus kita tinggalkan. Pertanian adalah masa depan Indonesia, dan kita memegang kunci penting untuk mencapainya,” tutup Amran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










