Akurat

Respons Tarif Trump, Menperin: Untuk Bangkitkan Manufaktur AS

Yosi Winosa | 14 Oktober 2025, 18:00 WIB
Respons Tarif Trump, Menperin: Untuk Bangkitkan Manufaktur AS

AKURAT.CO Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita turut merespons kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang.

Menurutnya, ini merupakan bagian dari strategi untuk menghidupkan kembali kejayaan sektor manufaktur Negeri Paman Sam.

Agus menjelaskan, sektor manufaktur AS saat ini hanya menyumbang kurang dari 12% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi tersebut dinilai jauh dari masa kejayaan industri manufaktur AS beberapa dekade lalu. 
 
“Tujuan utama dari Presiden Trump adalah mengembalikan sektor manufaktur Amerika untuk pertumbuhan yang bisa semakin tinggi dan agar kontribusinya terhadap GDP semakin besar,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
 
Menurut Menperin, langkah yang ditempuh Trump tidak hanya berorientasi pada kebijakan ekonomi domestik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya untuk menyeimbangkan neraca perdagangan AS dengan negara-negara mitra dagangnya. 
 
 
“Di permukaannya memang tampak untuk menjaga trade balance antara Amerika dengan para partner dagangnya,” katanya.
 
Kebijakan tarif yang diambil Trump mendapat sorotan global setelah ia mengumumkan rencana untuk menetapkan tarif impor baru sebesar 100 persen terhadap barang-barang asal China. 
 
Kebijakan itu juga disertai pembatasan ekspor terhadap sejumlah perangkat lunak penting, sebagai respons atas langkah Beijing yang membatasi ekspor mineral tanah jarang (rare earth).
 
Menanggapi kebijakan tersebut, Agus mengaku berhati-hati dalam memberikan pandangan. Namun, ia menilai bahwa kebijakan tarif tinggi tersebut dapat menjadi alat strategis untuk menarik investasi asing kembali ke AS. 
 
“Kalau bicara dalam konsep perdagangan, ini sangat sensitif. Tapi menurut pandangan saya, Trump menggunakan instrumen tarif itu untuk menarik investasi agar kembali ke Amerika,” ujarnya.
 
Trump sendiri telah menegaskan bahwa kebijakan tarif 100 persen terhadap produk asal China akan mulai berlaku pada 1 November 2025 atau lebih cepat, tergantung langkah lanjutan dari pemerintah China. 
 
Kebijakan ini dianggap sebagai langkah tegas AS dalam menghadapi dominasi ekonomi China di sektor manufaktur global.
 
Sementara itu, pemerintah China pada Kamis (9/10/2025) mengumumkan kebijakan pembatasan ekspor terhadap unsur tanah jarang yang memiliki peran penting dalam industri teknologi tinggi, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, dan peralatan militer. 
 
Beijing menyatakan kebijakan tersebut diterapkan demi menjaga keamanan serta kepentingan nasional.
 
Kementerian Perdagangan China menyebutkan pembatasan itu mencakup kegiatan penambangan, peleburan, pemisahan, produksi material magnetik, hingga daur ulang sumber daya sekunder. 
 
Selain itu, perusahaan asing juga dilarang bekerja sama dengan industri China tanpa izin pemerintah terlebih dahulu.
 
Dari sisi lain, Agus menilai bahwa ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini berpotensi membawa dampak positif bagi Indonesia. 
 
Dengan adanya tarif tinggi terhadap produk asal China, produk ekspor asal Indonesia seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik dapat memiliki peluang yang lebih besar untuk menembus pasar Amerika Serikat.
 
“Dengan ruang pasar yang terbuka akibat pembatasan produk China, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperluas ekspor. Ini bisa menjadi momentum bagi industri nasional untuk meningkatkan daya saing di pasar global,” kata Agus.
 
Pemerintah, lanjut Agus, akan terus mendorong pelaku industri dalam negeri untuk memanfaatkan peluang tersebut dengan memperkuat kapasitas produksi, efisiensi biaya, serta peningkatan kualitas produk. 
 
“Kita harus sigap menghadapi perubahan dinamika perdagangan global. Setiap kebijakan negara besar selalu membawa peluang, dan tugas kita adalah mengoptimalkan peluang itu untuk kepentingan industri nasional,” tegasnya.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa