Akurat

Akhir Impor Gula Kian Dekat, Indonesia Siap Swasembada 2026!

Dedi Hidayat | 14 Oktober 2025, 10:10 WIB
Akhir Impor Gula Kian Dekat, Indonesia Siap Swasembada 2026!

AKURAT.CO Badan Pangan Nasional (Bapanas) menargetkan impor gula kristal putih atau GKP tidak akan dilakukan lagi pada tahun 2026.

Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaeman mengatakan saat ini pemerintah tengah melakukan penamaan tebu yang nantinya akan menghasilkan gula untuk konsumsi.

“Sekarang gula kita sudah mulai penanaman,” kata Amran di kantor Bapanas, Senin (13/10/2025).

Amran menambahkan, penanaman tebu untuk gula konsumsi ini akan dilakukan dibeberapa daerah seperti Sumatera Utara, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi dan Jawa Timur.

Baca Juga: Eks Kepala Bapanas Siap Mengabdi Lagi Jika Dipanggil Presiden

“Gula ini kita (tanam) di seluruh Indonesia. Semua yang ada gula,” tambahnya.

Selain itu, Amran menyampaikan pemerintah juga tengah melakukan peremajaan tanaman tebu melalui bongkar ratoon selama tiga tahun.

Bongkar ratoon sendiri merupakan proses membongkar tanaman tebu yang sudah tiga kali kepras/panen karena produktivitasnya turun, sehingga dilakukan penanaman benih baru.

Sehingga, pemerintah memiliki target pada tahun depan atau 2026 tidak adalagi impor gula kristal putih. Bahkan, kata Amran tidak adalagi impor gula kristal mentah atau GKM (raw sugar) pada 2027 mendatang.

“Dan insya Allah white sugar, doakan paling lambat tahun depan sudah tidak impor. Target berikutnya adalah gula raw sugar. Itu berikutnya. Tetapi yang terpenting tabung depan kita target tidak impor white sugar lagi,” tutur Amran.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembalikan kejayaan produksi gula nasional sebagaimana yang pernah dicapai pada masa penjajahan Belanda.

Baca Juga: Ini Arahan Presiden Prabowo ke Mentan Sekaligus Kepala Baru Bapanas

Ia menyatakan, peningkatan produktivitas hingga mencapai 10 ton per hektare bukanlah hal mustahil jika dikelola dengan manajemen pertanian yang ketat dan disiplin tinggi.

“Waktu zaman Belanda, produksi gula bisa sampai 10 ton per hektare. Itu karena ada tekanan, kedisiplinan, dan ketegasan dalam pengelolaan lahan dan sistem pertaniannya,” ungkap Amran di Jakarta, Rabu (25/6/2025).

Mentan menekankan bahwa Indonesia pernah menjadi produsen gula terbesar kedua di dunia. Karena itu, semangat untuk mengembalikan status tersebut harus terus dikobarkan dengan kerja keras dan dukungan penuh semua pihak.

Pemerintah, kata dia, menargetkan tercapainya swasembada gula dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional.

Strategi utama yang diusung untuk mencapai swasembada gula adalah optimalisasi dan perluasan lahan tebu. Pemerintah menargetkan total lahan seluas 1 juta hektare dalam tiga tahun ke depan.

Dari jumlah tersebut, 500 ribu hektare merupakan lahan eksisting yang akan dimaksimalkan produktivitasnya dengan teknologi dan sistem pertanian terkini.

“Target kami bukan sekadar luas lahan, tapi bagaimana produktivitasnya bisa naik drastis. Lahan yang sudah ada akan kami benahi dari aspek benih, teknik budidaya, hingga akses terhadap pupuk dan alat mesin pertanian,” kata Amran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.