Berdaya Saing, Sektor IKFT Tumbuh 6,7 Persen di Kuartal II-2025
Dedi Hidayat | 5 Oktober 2025, 16:08 WIB

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemeperin) melihat industri pengolahan nonmigas semakin menunjukkan perannya dalam menopang kinerja ekspor nasional.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025, sektor ini telah menyumbang 72,55% dari total ekspor Indonesia, dengan nilai ekspor sebesar USD13,22 miliar.
“Capaian ini telah menunjukkan industri pengolahan nonmigas memiliki peran strategis dalam menjaga kinerja ekspor sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dikutip dari laman Kemenperin, Minggu (5/10/2025).
“Capaian ini telah menunjukkan industri pengolahan nonmigas memiliki peran strategis dalam menjaga kinerja ekspor sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dikutip dari laman Kemenperin, Minggu (5/10/2025).
Baca Juga: Tumbuh, Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Berkontribusi 3,8 Persen ke PDB Kuartal II-2025
Sejalan dengan hal tersebut, sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) turut mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,70% secara tahunan (yoy) dan menunjukkan kontribusinya sebagai salah satu motor penggerak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Sri Bimo Pratomo menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil nyata dari penguatan struktur industri dalam negeri, peningkatan kinerja ekspor, serta dukungan kebijakan yang konsisten.
“Sektor IKFT telah berkontribusi sebesar 3,82% terhadap PDB nasional, hal ini menunjukkan peran strategis sektor ini sebagai motor dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Bimo.
Kinerja positif sektor IKFT didukung oleh beberapa subsektor yang tumbuh secara signifikan, seperti Industri Bahan Galian Non Logam yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 10,07% pada kuartal II tahun 2025.
Angka ini menunjukan lonjakan besar dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana subsektor ini sempat mengalami penurunan sebesar 1,68% di kuartal I tahun 2025.
Lebih lanjut, subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional turut mencatat lonjakan pertumbuhan yang signifikan, hingga mencapai 9,39%, jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I tahun 2025 yang hanya sebesar 3,68%, maupun 4,47% pada kuartal IV tahun 2024.
Kinerja positif juga terlihat pada industri kulit, barang kulit, dan alas kaki yang naik menjadi 8,31% dari yang sebelumnya 6,95% pada kuartal I 2025.
Capaian positif sektor IKFT turut ditopang oleh kinerja sektor unggulan. Berdasarkan data terbaru BPS, ekspor alas kaki (HS 64) sepanjang Januari - Agustus 2025 mencapai USD5,16 miliar tumbuh 11,89% dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar USD4,61 miliar.
Ekspor tekstil dan produk tekstil (HS 50-63) juga mencatat kenaikan 0,24% menjadi USD8,01 miliar dari sebelumnya USD7,98 miliar. Secara total, ekspor gabungan alas kaki dan TPT menembus USD13,17 miliar, naik 4,51% dibanding capaian tahun lalu mencapai USD12,59 miliar.
Selain itu, produk kimia (HS 38) juga memberikan kontribusi signifikan dengan nilai ekspor mencapai USD6,12 miliar.
Kinerja ini selaras dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode September 2025 yang menunjukkan industri manufaktur masih berada dalam zona ekspansi dengan nilai mencapai 53,02 poin.
Berdasarkan hasil IKI selama tiga bulan terakhir, seluruh subsektor IKFT konsisten menunjukan fase pertumbuhan yang positif.
Kemenperin terus berkomitmen dalam mendorong pengembangan dan penguatan industri melalui berbagai kebijakan strategis.
Adapun bagi sektor IKFT, langkah yang ditempuh meliputi peningkatan ekspor, menjaga serta menjamin ketersedian bahan baku dan energi bagi industri dalam negeri, serta mendorong peningkatan utilisasi kapasitas produksi.
Demi menjaga momentum pertumbuhan ini, Direktorat Jenderal IKFT Kemenperin mendorong kebijakan hilirisasi, khususnya pada industri kimia berbasis minyak dan gas serta sektor bahan galian bukan logam.
Selain itu, penguatan basis ekspor pada komoditas andalan seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki juga menjadi prioritas.
“Tindakan strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutur Bimo.
Sejalan dengan hal tersebut, sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) turut mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,70% secara tahunan (yoy) dan menunjukkan kontribusinya sebagai salah satu motor penggerak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Sri Bimo Pratomo menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil nyata dari penguatan struktur industri dalam negeri, peningkatan kinerja ekspor, serta dukungan kebijakan yang konsisten.
“Sektor IKFT telah berkontribusi sebesar 3,82% terhadap PDB nasional, hal ini menunjukkan peran strategis sektor ini sebagai motor dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Bimo.
Kinerja positif sektor IKFT didukung oleh beberapa subsektor yang tumbuh secara signifikan, seperti Industri Bahan Galian Non Logam yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 10,07% pada kuartal II tahun 2025.
Angka ini menunjukan lonjakan besar dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana subsektor ini sempat mengalami penurunan sebesar 1,68% di kuartal I tahun 2025.
Lebih lanjut, subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional turut mencatat lonjakan pertumbuhan yang signifikan, hingga mencapai 9,39%, jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I tahun 2025 yang hanya sebesar 3,68%, maupun 4,47% pada kuartal IV tahun 2024.
Kinerja positif juga terlihat pada industri kulit, barang kulit, dan alas kaki yang naik menjadi 8,31% dari yang sebelumnya 6,95% pada kuartal I 2025.
Capaian positif sektor IKFT turut ditopang oleh kinerja sektor unggulan. Berdasarkan data terbaru BPS, ekspor alas kaki (HS 64) sepanjang Januari - Agustus 2025 mencapai USD5,16 miliar tumbuh 11,89% dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar USD4,61 miliar.
Ekspor tekstil dan produk tekstil (HS 50-63) juga mencatat kenaikan 0,24% menjadi USD8,01 miliar dari sebelumnya USD7,98 miliar. Secara total, ekspor gabungan alas kaki dan TPT menembus USD13,17 miliar, naik 4,51% dibanding capaian tahun lalu mencapai USD12,59 miliar.
Selain itu, produk kimia (HS 38) juga memberikan kontribusi signifikan dengan nilai ekspor mencapai USD6,12 miliar.
Kinerja ini selaras dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode September 2025 yang menunjukkan industri manufaktur masih berada dalam zona ekspansi dengan nilai mencapai 53,02 poin.
Berdasarkan hasil IKI selama tiga bulan terakhir, seluruh subsektor IKFT konsisten menunjukan fase pertumbuhan yang positif.
Kemenperin terus berkomitmen dalam mendorong pengembangan dan penguatan industri melalui berbagai kebijakan strategis.
Adapun bagi sektor IKFT, langkah yang ditempuh meliputi peningkatan ekspor, menjaga serta menjamin ketersedian bahan baku dan energi bagi industri dalam negeri, serta mendorong peningkatan utilisasi kapasitas produksi.
Demi menjaga momentum pertumbuhan ini, Direktorat Jenderal IKFT Kemenperin mendorong kebijakan hilirisasi, khususnya pada industri kimia berbasis minyak dan gas serta sektor bahan galian bukan logam.
Selain itu, penguatan basis ekspor pada komoditas andalan seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki juga menjadi prioritas.
“Tindakan strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri nasional sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutur Bimo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










