Akurat

Industri Halal RI Kian Kuat, Kemenperin Dorong Sertifikasi Halal dan Inovasi Generasi Muda

Yosi Winosa | 29 September 2025, 12:52 WIB
Industri Halal RI Kian Kuat, Kemenperin Dorong Sertifikasi Halal dan Inovasi Generasi Muda

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan industri halal nasional melalui berbagai program strategis.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan salah satunya dengan fasilitasi sertifikat halal dalam kegiatan Halal Indo dan Industrial Festival 2025.

Apalagi , Agus melihat Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat industri halal dunia. Untuk itu, kepastian halal pada produk yang beredar di pasar domestik maupun global adalah sebuah keniscayaan.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengedukasi masyarakat sekaligus mendorong para pelaku usaha agar menjadikan halal sebagai standar sekaligus nilai tambah bagi produk mereka,” kata Agus dikutip dari laman Kemenperin, Senin (29/9/2025).

Baca Juga: Indonesia–Kirgizstan Jalin Kerja Sama Pengembangan Industri Halal

Sementara itu, Kepala Pusat Industri Halal Kris Sasono Ngudi Wibowo menegaskan, seluruh produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.

Hal ini sesuai dengan amanat Pasal 4 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 dan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024.

“Produk makanan, minuman, hasil sembelihan, maupun jasa penyembelihan dari luar negeri wajib memiliki sertifikat halal paling lambat 17 Oktober 2026. Ketentuan ini sekaligus memperkuat kerja sama saling pengakuan sertifikat halal antarnegara,” jelasnya.

Kris menegaskan, prinsip halal tidak hanya sebatas kepatuhan terhadap syariah dan regulasi pemerintah, melainkan juga mencakup aspek kualitas, daya saing, keberlanjutan, hingga inklusi ekonomi.

Halal, kata Kris memberikan jaminan kualitas yang aman, higienis, dan berkualitas tinggi. Lebih dari itu, halal juga merupakan value proposition untuk branding produk di pasar internasional.

“Prinsip halal mengandung nilai thayyib (baik) yang ramah lingkungan, adil, dan berkelanjutan, serta menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi inklusif,” ujar Kris.

Berdasarkan State of The Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025, Indonesia menempati peringkat ketiga dalam ekosistem industri halal dunia setelah Malaysia dan Arab Saudi.

Capaian ini semakin menguat karena Indonesia tercatat sebagai negara dengan kenaikan skor tertinggi dibanding 2022, yaitu meningkat 19,8 poin.

Dalam mendukung ekosistem halal nasional, Kris menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda. Sebab, generasi muda itu penting ketika bicara tentang industri halal, karena terkait dengan inovasi produk.

“Biasanya anak muda itu punya gagasan, ide untuk bikin usaha produk-produk tertentu. Contohnya peserta pameran (exhibitor) itu sebagian besar anak muda,” tutur Kris.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.