Kemenperin Dorong IKM Hilirisasi Kemenyan
Hefriday | 16 September 2025, 13:11 WIB

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi kemenyan melalui penguatan industri kecil dan menengah (IKM).
Upaya ini dilakukan dengan mengembangkan produk minyak atsiri berbasis kemenyan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan berpotensi memperkuat daya saing nasional di pasar global.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan bahwa hilirisasi kemenyan sejalan dengan agenda pemerintah dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam.
“Hilirisasi kemenyan memberikan nilai tambah lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing IKM di daerah penghasil. Ini terus kami dorong sebagai bagian dari kebijakan hilirisasi nasional,” ujarnya di Jakarta, Selasa (16/9/2025).
Reni menjelaskan, getah kemenyan yang dulunya lebih dikenal sebagai bahan ritual dan wewangian tradisional kini semakin luas pemanfaatannya.
Dengan dukungan teknologi modern, resin dan minyak atsiri dari kemenyan telah digunakan secara global, antara lain untuk parfum, aromaterapi, pengharum ruangan, kosmetik, hingga insektisida alami.
Menurutnya, kemenyan memiliki keunggulan khas di industri parfum internasional karena berfungsi sebagai fixative alami. Komponen ini membuat aroma parfum lebih tahan lama sekaligus memperhalus transisi antar-lapisan aroma.
“Kelebihan ini menjadi daya tarik kemenyan Indonesia di mata industri global,” tambah Reni.
Ia menekankan, pelibatan IKM dalam hilirisasi kemenyan sangat penting. Selain memiliki akses dekat ke bahan baku, pelaku IKM juga menjaga kualitas resin melalui metode penyadapan tradisional.
Hal ini sekaligus mendukung keberlanjutan produksi di daerah sentra.
“Kemenyan Indonesia dikenal berkualitas tinggi dan diminati di India, Vietnam, China, Amerika Serikat, hingga Prancis,” jelasnya.
Data dari Trademap.org mencatat, pada 2024 ekspor produk getah alam, resin, dan oleoresin Indonesia, termasuk kemenyan, mencapai USD55,5 juta dengan volume 43.685 ton.
Sementara itu, ekspor produk hilirisasi berupa minyak atsiri dan turunannya tercatat sebesar USD42,3 juta dengan volume 1.776 ton. Perbandingan ini menunjukkan nilai per ton produk hilirisasi jauh lebih tinggi dibanding bahan mentah.
Sebagai langkah awal, Ditjen IKMA melalui Direktorat Industri Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK) berkoordinasi dengan Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan (IHHP) serta pemerintah daerah di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.
Kedua wilayah tersebut merupakan penghasil utama yang menyumbang sekitar 80% produksi kemenyan dunia.
Direktur IKM KSK, Budi Setiawan, mengatakan koordinasi lapangan mencakup pemetaan jenis tanaman, proses penyulingan, rantai pasok, hingga evaluasi program pembinaan.
“Dengan begitu, kami dapat mengidentifikasi aspek yang perlu diperkuat dan memberikan intervensi program pembinaan yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Kemenperin berkomitmen melibatkan lebih banyak pihak dalam ekosistem hilirisasi kemenyan. Sinergi tersebut mencakup satuan kerja internal Kemenperin, kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, asosiasi industri, hingga pelaku usaha.
Tujuannya adalah membangun rantai nilai yang solid untuk mendukung ekspor produk kemenyan bernilai tambah tinggi.
Budi menegaskan, dengan dukungan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi IKM, pengolahan minyak atsiri berbasis kemenyan dapat menjadi motor baru hilirisasi nasional.
“Kami optimistis produk atsiri dari kemenyan mampu menembus pasar global dengan karakteristik khas dan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” katanya.
Upaya hilirisasi kemenyan juga mendapat pengakuan formal. Pada 2025, kemenyan Tapanuli Utara resmi memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










