PalmCo Dorong UMKM Wastra Naik Kelas Lewat Pelatihan Fesyen Premium

AKURAT.CO PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo, subholding dari PTPN III (Persero), terus menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Salah satu langkah nyata dilakukan melalui pelatihan intensif pembuatan busana premium berbasis kain tradisional atau wastra yang digelar di LaSalle College Jakarta, awal September 2025.
Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis para pelaku UMKM, tetapi juga mendorong mereka agar mampu mengolah warisan budaya menjadi produk fesyen siap pakai bernilai tinggi dan berdaya saing global.
Baca Juga: PTPN IV Pastikan Tidak Ada Kekerasan di Kasus Kebun Cot Girek
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, mengatakan sektor wastra dipilih karena memiliki potensi ekonomi besar sekaligus merepresentasikan identitas bangsa.
“Kami ingin UMKM binaan tidak hanya berkembang, tapi juga berperan menjaga kelestarian budaya Indonesia. Harapannya, kain tradisional bisa diolah menjadi busana premium yang siap bersaing di pasar internasional,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Pelatihan yang berlangsung selama delapan hari ini diikuti sepuluh peserta terpilih dari lima regional operasi PalmCo, antara lain Sumatera Utara, Riau, Jambi, hingga Kalimantan. Mereka mendapatkan materi menyeluruh mulai dari desain, pembuatan pola, hingga produksi busana ready-to-wear.
Pemilik brand Tebing Batik Collection asal Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Hijrah Saputra, mengaku pengalaman yang diperoleh sangat berharga. Selama ini ia hanya memproduksi pakaian dengan bahan baku yang tersedia di pasaran.
“Lewat pelatihan ini saya bisa belajar membuat busana siap pakai dari kain produksi sendiri. Fasilitas yang disiapkan perusahaan juga luar biasa, mulai dari akomodasi hingga bimbingan instruktur,” ungkap Hijrah.
Baca Juga: PTPN IV PalmCo Lindungi Kawasan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi
Hal serupa dirasakan Generasi kedua dari usaha Batik Jambi Mariana, Anjani Futri Astria. Dirinya mengaku datang tanpa kemampuan menjahit, namun bertekad memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.
“Saya benar-benar belajar dari nol. Kini saya bisa mengawasi produksi, bahkan mulai mencoba desain sendiri. Ke depan, saya berharap ada pelatihan lanjutan khusus desain motif,” tuturnya.
Peserta lain, Harianti Pangabean, pemilik Penjahit Annur asal Medan, menilai metode pengajaran di LaSalle College memberikan pengalaman berbeda. Menurutnya, teknik modern yang diajarkan mudah dipahami dan sangat membantu dalam proses produksi.
Dirinya berharap dukungan perusahaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga pada penyediaan alat produksi seperti mesin jahit dan obras agar usaha mereka semakin kompetitif.
Sementara itu, Instruktur senior LaSalle College, Jennifer Agrilah, menilai semangat para peserta sangat tinggi meski sebagian besar belum berpengalaman menjahit.
“Tantangannya adalah bagaimana mengajarkan teknik dasar dengan cara yang menyenangkan, terutama menggunakan kain tradisional yang punya karakter motif khusus. Tapi mereka cepat beradaptasi,” katanya.
Menurut Jennifer, program ini tidak hanya memperkenalkan standar industri garmen, tetapi juga membuka wawasan peserta tentang bagaimana mengemas wastra menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Harapan saya, kain tradisional Indonesia bisa terus lestari sekaligus punya daya saing kuat di pasar global,” ujarnya.
Program pengembangan UMKM berbasis wastra ini sekaligus memperlihatkan peran BUMN dalam mendorong transformasi ekonomi kreatif di daerah. Dengan keterampilan baru yang diperoleh, para pelaku UMKM diharapkan mampu naik kelas, memperluas pasar, dan menjadi bagian penting dari rantai industri fesyen nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini






