Hoax Disinformasi Mewabah di Internet Menyulut Kepanikan Warga Meksiko Setelah Kematian El Mencho

AKURAT.CO - Sedikitnya 70 orang tewas setelah operasi militer Meksiko menewaskan gembong narkoba paling berpengaruh, Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho”. Namun di tengah gelombang kekerasan yang meluas, publik tak hanya dihadapkan pada baku tembak dan ledakan, melainkan juga banjir disinformasi di media sosial yang memperparah kepanikan.
Operasi penangkapan yang berujung tewasnya pemimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG) pada Minggu lalu memicu aksi balasan brutal. Blokade jalan, pembakaran kendaraan, dan baku tembak dilaporkan terjadi di sekitar 20 negara bagian.
Di saat warga berusaha mencari informasi melalui ponsel mereka, media sosial justru dipenuhi unggahan yang menggambarkan Meksiko dalam kondisi lumpuh total. Selain laporan nyata soal korban dan imbauan pemerintah agar warga tetap di rumah, beredar pula video dan foto palsu yang disebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Pemerintah Meksiko menyatakan terdapat antara 200 hingga 500 unggahan bermasalah sejak operasi militer digelar. Sekitar 30 di antaranya telah ditonton lebih dari 100 ribu kali.
Data yang dipaparkan dalam konferensi pers harian Presiden Claudia Sheinbaum menunjukkan 35–40 persen unggahan tidak memiliki konteks jelas, 25 persen bersifat menyesatkan, dan hampir 25 persen dimanipulasi atau sepenuhnya palsu berbasis AI. Data tersebut dihimpun oleh Tecnológico de Monterrey.
Salah satu unggahan palsu menampilkan pesawat komersial terbakar di Bandara Internasional Guadalajara. Ada pula klaim bahwa bandara telah dikuasai kelompok bersenjata dan wisatawan disandera. Unggahan lain menyebut agen Amerika Serikat mencekik Oseguera Cervantes, hingga isu bahwa Presiden Sheinbaum bersembunyi di kapal perang di lepas pantai Pasifik.
Pihak universitas tidak menyebut siapa yang memproduksi konten palsu tersebut.
Warga mengaku kesulitan membedakan informasi benar dan palsu. Victoria Elizabeth Peceril (31), warga Guadalajara, mengatakan ia dan keluarganya sempat diliputi ketakutan karena tidak mengetahui situasi sebenarnya.
Hal serupa dialami Nicolás Martín (28), warga Mexico City yang sedang berada di dekat Puerto Vallarta saat kerusuhan terjadi. Ia mengaku awalnya mempercayai semua unggahan yang beredar. Namun ia mulai curiga karena kualitas video, termasuk rekaman drone, terlihat terlalu rapi untuk situasi darurat.
Sarai Olguín (22), mahasiswi di Guadalajara, mengatakan pesan berantai yang ia terima bahkan memperingatkan bahwa “setelah jam tertentu semua orang akan dibunuh.” Meski menimbulkan kepanikan, ia menilai kabar-kabar itu membuat warga memilih bertahan di rumah sehingga terhindar dari risiko.
Pakar kejahatan terorganisasi dari Brookings Institution, Vanda Felbab-Brown, menilai ada kemungkinan pihak yang terkait dengan kartel ikut menyebarkan sebagian disinformasi tersebut. Menurutnya, CJNG termasuk kelompok kriminal yang aktif membangun pengaruh di dunia maya dan semakin canggih dalam memanfaatkan teknologi.
Meski otoritas Meksiko dan Kedutaan Besar AS berupaya meluruskan kabar bohong, arus informasi palsu yang masif membuat publik kesulitan memilah fakta di tengah krisis keamanan yang belum sepenuhnya mereda. (ABC)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









