Akurat

Pernah Dapat Beras Rusak? Anda Tak Sendirian, Bos Bulog Juga

Dedi Hidayat | 7 September 2025, 15:00 WIB
Pernah Dapat Beras Rusak? Anda Tak Sendirian, Bos Bulog Juga

AKURAT.CO Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan bahwa dirinya pernah mendapat pengalaman dimana beras yang baru dipanen mengalami kerusakan yang cepat.

Adapun, Perum Bulog memastikan bahwa pengelolaan beras di gudang tidak hanya soal penyimpanan, tetapi juga memastikan kualitas beras tetap terjaga hingga sampai ke tangan masyarakat.

“Kita juga melihat kualitas dari masing-masing kondisi beras. Kadang-kadang, ada beras-beras yang baru, ini juga mengalami kecepatan kerusakan. Contoh namanya warnanya cepat-cepat kuning dia,” kata Rizal saat meninjau gudang Bulog di Jakarta Utara, Sabtu (6/9/2025).

Rizal menjelaskan bahwa kejadian kerusakan cepat pada beras bisa terjadi karena proses panen tidak sempurna. Menurutnya, proses pasca-panen yang kurang optimal membuat beras lebih rentan mengalami perubahan kualitas saat disimpan di gudang. 

Baca Juga: Bos Bulog Ungkap Kutu Tepung dan Kumbang Padi Jadi Musuh Utama

Maka dari itu, Bulog menerapkan asas skala prioritas dalam penyaluran beras atau melalui skema First In First Out (FIFO), dimana beras yang masuk pertama akan dikeluarkan lebih dulu.

“Kami juga menggunakan asas skala prioritas, mana prioritas terlebih dahulu dikeluarkan, dihadapkan dengan kondisi riil yang ada di lapangan,” ujar Rizal.

Pemeriksaan Rutin

Adapun, Rizal menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan sistem pemeriksaan rutin baik mingguan maupun bulanan. 

Apabila ditemukan indikasi gangguan hama, Bulog segera melakukan tindakan fumigasi. Fumigasi adalah pengendalian hama dengan pestisida jenis fumigan di ruang kedap udara dengan dosis, waktu, dan suhu tertentu.

“Jadi perlu diluruskan, jadi yang apabila ada indikasi, seperti laporan gangguan hama yang saya laporkan permingguan dan perbulanan tersebut, kami lakukan eksekusi dengan kegiatan fumigasi,” ucapnya.

Jika setelah fumigasi pertama masih ditemukan kutu, Rizal menyebut pihaknya akan melakukan fumigasi lanjutan. 

Setelah proses tersebut tuntas, beras kemudian dibersihkan dengan alat khusus yang mampu memisahkan kotoran, butir pecah, hingga beras yang berwarna tidak normal.

Beras yang sudah dipisahkan itu, lanjut Rizal, tidak dibuang begitu saja, melainkan dialihkan pemanfaatannya, salah satunya untuk pakan ternak.

“Jadi tidak dibuang, tidak di-disposal (dibuang). Jadi kita gunakan semaksimal mungkin, se-efektif mungkin, bisa bermanfaat. Jadi tidak mungkin kami langsung ujuk-ujuk, langsung disposal gitu,” tutur Rizal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.