Proyek DME Batu Bara Rp164 Triliun Diserahkan ke Danantara, Ini Tantangannya

AKURAT.CO Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menyerahkan secara resmi dokumen Pra-Studi Kelayakan pada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) sebagai langkah konkret percepatan agenda hilirisasi nasional.
Dalam dokumen tersebut, salah satu proyek di antaranya merupakan hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di 6 lokasi dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp164 triliun.
Executive Director Indonesian Mining Association (IMA) Hendra Sinadia menilai positif proyek gasifikasi tersebut. Dirinya berharap, dengan dukungan Danantara dan pemerintah, proyek yang sudah lama direncanakan ini bisa berjalan.
Baca Juga: Danantara Perlu Terbitkan Laporan Keuangan Demi Kepercayaan Publik
Kendati demikian Hendra menyoroti tantangan keekonomian yang sejak dulu menjadi bayang-bayang proyek DME. Menurutnya, selama proyek gasifikasi ini mendatangkan keuntungan, akan ada banyak perusahaan tambang batu bara yang berlomba-lomba menjalankan proyek DME.
"Bahasa umumnya sih keekonomian. Ya jadi intinya kalau di semua bidang usaha sepanjang itu tanda kutip ada cuannya bagus ya pasti orang berlomba-lomba," jelas Hendra, dikutip Kamis (24/7/2025).
Sebelumnya, emiten batu bara pelat merah, PT Bukit Asam tbk (PTBA) telah melakukan groundbreaking pada tahun 2022 dengan menggandeng Air Product. Namun perusabaan AS itu akhirnya memilih mundur lantaran belum memenuhi nilai keekonomian.
Untuk itu, Hendra menekankan pentingnya teknologi dalam menjalankan proyek ini.
"Teknologinya mahal, kita tidak punya teknologinya, dan di dunia juga mungkin baru China yang sudah ini (menjalankan). Negara produsen batu bara lain seperti India, Rusia, Australia, mereka tidak masuk ke situ," tegasnya.
Lebih lanjut, Hendra juga bilang sejatinya DME merupakan hal baru bagi pelaku usaha pertambangan. Hal ini juga berbeda jauh dengan bisnis yang selama ini ditekuni sehingga tidak bisa memprediksi harga DME dan proyeksi keuntungan yang akan didapat nantinya.
Baca Juga: Komisi VI Minta Danantara Kelola Dividen Secara Transparan dan Akuntabel
"Kalau batu bara sudah merem saja tahu harganya bagaimana. Tapi kalau misalnya gasifikasi, kita hasilkan DME, kita tidak tahu DME harganya bagaimana dan itu proyek jangka panjang. Jadi kita bisa dikatakan blank gitu ya, tidak tahu marketnya bagaimana," sambung Hendra.
Namun Hendra berharap proyek yang sudah digalakan sejak masa Presiden Ri ke-7 Joko Widodo ini tetap berjalan. Apalagi, lanjut dia, jajaran direksi Danantara merupakan sosok yang ahli di bidang pertambangan seperti Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu yang pernah menjadi ketua asosiasi batu bara.
"Pasti sudah dipetakan, apalagi Danantara ada banyak expert di situ, Pak Pandu juga pernah jadi Ketua Asosiasi Batu Bara misalnya, jadi ada optimisme kalau memang Danantara mau support," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










