Akurat

Kementerian ESDM Kaji Pengalihan Subsidi LPG ke Proyek DME

Dedi Hidayat | 13 Desember 2025, 14:11 WIB
Kementerian ESDM Kaji Pengalihan Subsidi LPG ke Proyek DME

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan tengah membuka peluang pengalihan subsidi liquefied petroleum gas (LPG) ke proyek Dimethyl Ether (DME) sebagai bagian dari strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan impor LPG. 

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa pengalihan subsidi menjadi salah satu opsi realistis mengingat DME merupakan produk substitusi LPG yang dikembangkan sebagai energi domestik berkelanjutan. 

Saat ini, Kementerian ESDM sedang melakukan perhitungan ulang harga pokok produksi (HPP) DME guna bisa bersaing dan tidak terlalu mahal untuk masyarakat. "Jadi kita lagi memperhitungkan berapa HPP untuk DME. Kalau memang ada subsidi, itu kan juga merupakan pengalihan subsidi dari LPG yang ada saat ini,” kata Yuliot di Kementerian ESDM dikutip, Sabtu (13/12/2025).

Baca Juga: Gantikan LPG Impor, Wamen ESDM Harap Proyek DME Jalan Tahun Depan

Diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) akan mulai dijalankan pada tahun depan. 

Proyek ini menjadi salah satu dari 18 proyek strategis hilirisasi yang telah diselesaikan konsep dan pra-feasibility study (pra-FS)-nya oleh Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi.
Bahlil mengatakan, hasil pra-FS tersebut kini sedang dipelajari oleh konsultan untuk difinalisasi oleh BPI Danantara.

“Sekarang, dari pra FS itu dipelajari oleh konsultan untuk finalisasi di Danantara. Dari sekian banyak, 18 project itu salah satunya adalah DME,” kata Bahlil di Hotel Kempinski dikutip, Minggu (26/10/2025).

Bahlil menjelaskan, proyek DME menjadi salah satu prioritas utama karena dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG). 

Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya sekitar 1,3 juta ton.

“Jadi kita impor sekitar 6,5 sampai 7 juta ton. Nah caranya bagaimana mengurangi impor adl kita melahirkan substitusi impor melalui hilirisasi batubara,” ucapnya.

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa proyek DME akan mulai digarap pada tahun depan. Saat ini, pemerintah masih dalam tahap menentukan teknologi yang paling efisien untuk proses konversi batu bara menjadi DME.

“Tahun depan (ditargetkan jalan). Mitranya nanti dengan Danantara, teknologinya kan macam-macam ya, bisa dari China, bisa juga dari Eropa,” jelas Bahlil.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.