AKURAT.CO Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa menyoroti, Wuling yang lebih menggunakan bahan baku litium dibandingkan Nikel. Namun menurutnya, hal ini bukan tanpa alasan, mengingat litium yang menjadi bahan baku Wuling masih di impor dari China, Chili dan Amerika.
"Meskipun di Indonesia pun ada namun sumber daya alam itu masih belum diolah baik. Kebetulan Wuling ada di Indonesia, kita kan mau bahan baku itu menggunakan bahan baku yang ada di negara kita sendiri, dimana itu untuk meningkatkan produk kita juga bisa diberdayakan dengan semaksimal mungkin, kalau mereka berada di sini bahan bakunya masih bahan baku dari luar, ya boleh dibilang mereka hanya berinvestasi kasarnya hanya sewa lahan," tutur Monalisa, diktuip Sabtu (5/7/2025).
Eva menjelaskan, litium di Indonesia memang ada di Papua, tapi belum di energikan, namun nikel di Indonesia sudah menjadi salah satu sumber daya alam yang dapat diproses lebih massif, juga menurutnya, nikel lebih awet dibandingkan litium.
Baca Juga: DPR Dukung ANTAM Bangun Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Nasional
"Jadi kita juga Tadi mendengar kalau dari 60 hektar ini 30 hektarnya itu mereka juga ada pabrik-pabrik yang mereka bawa rekanan mereka dari Cina untuk memproduksi bahan baku, kita juga belum tahu apakah bahan baku itu benar-benar mereka ambil dan mereka produksi dari negara kita," terangnya.
"Jadi ini mungkin kedepannya saya juga minta Wuling untuk mungkin bisa memproduksi mobil listrik yang menggunakan bahan baku dari nikel secara nikel dan litium ini kebetulan lebih awet memang nikel," sambungnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini meminta Wuling untuk memastikan limbah baterai yang dibuat dan digunakan tidak merusak lingkungan. Jangan sampai hal ini malah menjadi seperti buah simalakama, inginnya membangun industri hijau tapi malah mencemari lingkungan yang ada dengan limbah yang dihasilkan.
Baca Juga: DPR Minta Wuling Prioritaskan CSR dan Lingkungan di Daerah Tertinggal
"Setidaknya kami harus memastikan regulasi tentang limbah baterai ini segera diurus, segera dibuat, sehingga kita dapat memastikan bahwa tidak ada kerusakan lingkungan. Kita niatnya ingin mendorong investasi hijau ya kan dengan menggunakan tenaga listrik ini, tapi jangan sampai tenaga listrik ini malah mencemari lingkungan-lingkungan yang lain dengan adanya limbah baru yang dihasilkan," jelas Novita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina










