Akurat

Genjot Ekspor, Kemendag Gandeng Lembaga Halal Australia

Hefriday | 26 Juni 2025, 23:50 WIB
Genjot Ekspor, Kemendag Gandeng Lembaga Halal Australia

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia terus memperluas langkah konkret untuk meningkatkan ekspor produk halal ke pasar internasional.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan bahwa pemerintah menjalin kerja sama strategis dengan Global Australian Halal Certification (GAHC), lembaga sertifikasi halal berbasis di Australia, dalam upaya mendongkrak daya saing produk halal Indonesia di Negeri Kanguru.

“Kalau kita bisa masuk ke pasar halal Australia, saya kira ini langkah yang sangat bagus,” ujar Budi dalam acara Penandatanganan Kerja Sama Indonesia dan Australia tentang Sertifikat Halal Global di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (26/6/2025).
 
Menurut Budi, Australia merupakan negara dengan konsumsi produk halal yang sangat tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Perdagangan, nilai impor produk halal Australia mencapai USD8,13 triliun dari seluruh dunia. 
 
Sementara itu, ekspor produk halal Indonesia ke Australia pada tahun 2024 tercatat hanya sebesar USD634,5 juta. “Nilai ekspor kita ke sana masih kecil jika dibandingkan dengan potensi pasar. Ini artinya peluang kita untuk tumbuh masih sangat besar,” tambah Budi.
 
 
Australia juga disebut sebagai mitra dagang strategis Indonesia. Pada tahun 2024, nilai perdagangan total antara Indonesia dan Australia mencapai USD15,39 miliar. Namun demikian, Indonesia masih mencatatkan defisit dalam hubungan dagang ini. 
 
Oleh karena itu, sektor halal menjadi salah satu fokus pengembangan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan.
 
Melalui kerja sama dengan GAHC lembaga sertifikasi halal milik diaspora Indonesia di Australia Kementerian Perdagangan menargetkan penerbitan hingga 1.000 sertifikat halal untuk 1.000 pelaku UKM (usaha kecil dan menengah) di Indonesia.
 
Sertifikasi ini diharapkan bisa mempercepat penetrasi produk halal nasional ke pasar Australia yang menjanjikan.
 
Lebih lanjut, Budi juga mendorong agar para diaspora Indonesia di Australia tidak hanya menjadi mitra sertifikasi, namun juga berperan sebagai importir aktif.
 
Dengan jumlah diaspora yang cukup besar di Australia, kolaborasi ini diharapkan menjadi penggerak signifikan dalam meningkatkan ekspor.
 
“Kami berharap diaspora Indonesia di sana juga bisa menjadi pembeli, pelaku distribusi, bahkan importir produk halal Indonesia. Ini peluang ekonomi yang harus dimanfaatkan bersama,” tegasnya.
 
Penjajakan kerja sama dengan GAHC sendiri telah dimulai sejak awal tahun 2025, yakni pada pertemuan antara Kemendag dan pihak GAHC yang berlangsung pada 24 Januari 2025.
 
Dalam pertemuan tersebut, disepakati tiga pilar utama kerja sama yakni menyediakan sertifikasi halal berstandar global, meningkatkan daya saing UMKM, serta mendukung promosi dan distribusi produk halal ke pasar luar negeri.
 
Pemerintah juga memandang pentingnya dukungan terhadap pelaku UMKM agar mampu memenuhi standar internasional, termasuk dalam aspek produksi, sertifikasi, hingga branding. 
 
“UMKM kita banyak yang potensial, tinggal bagaimana kita bantu mereka masuk ke sistem perdagangan internasional, salah satunya melalui skema halal,” jelas Budi.
 
Kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.
 
Dengan mengedepankan sertifikasi yang kredibel dan penguatan ekosistem halal dari hulu ke hilir, Indonesia optimistis mampu menjadi pemain utama dalam rantai pasok halal global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa