Akurat

Dari Baja hingga Sawit Berkelanjutan, RI Dorong Perdagangan Hijau

Hefriday | 20 Juni 2025, 22:52 WIB
Dari Baja hingga Sawit Berkelanjutan, RI Dorong Perdagangan Hijau

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mendorong perdagangan hijau atau sustainable trade melalui sejumlah komoditas unggulan yang dianggap ramah lingkungan.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan bahwa besi dan baja, aluminium, furnitur, hingga kelapa sawit merupakan produk-produk strategis yang diprioritaskan dalam upaya pengembangan perdagangan berkelanjutan.

Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Internasional Kemendag, Olvy Andrianita, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor komoditas hijau.
 
Produk seperti besi dan baja bahkan sudah menerapkan prinsip produksi yang ramah lingkungan dan mendukung target nol emisi. 
 
“Besi baja kita bukan hanya environment friendly sustainable, tapi juga zero emissions. Ini penting banget,” ujarnya di sela konferensi pers di Jakarta, Jumat (20/6/2025).
 
 
Selain besi dan baja, Olvy juga menyebut aluminium sebagai komoditas strategis yang tengah didorong ke pasar internasional. Upaya ini dilakukan untuk menggenjot ekspor sekaligus menunjukkan posisi Indonesia sebagai negara yang peduli terhadap lingkungan hidup.
 
Komitmen terhadap perdagangan hijau menurut Olvy juga tercermin dari regulasi-regulasi pemerintah yang mendukung prinsip keberlanjutan.
 
Salah satu contohnya adalah penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) bagi produk furnitur berbasis kayu. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk kayu Indonesia berasal dari sumber yang legal dan dikelola secara berkelanjutan.
 
“Produk furnitur kita sudah memenuhi standar SVLK. Artinya, kita bukan hanya bicara soal kualitas, tapi juga keberlanjutan dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” imbuh Olvy.
 
Untuk komoditas kelapa sawit, Indonesia telah menerapkan dua standar sertifikasi penting, yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
 
Kedua sertifikasi ini menjadi indikator bahwa industri sawit nasional berupaya memenuhi prinsip-prinsip berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
 
“Sawit kita sangat ramah lingkungan. Hanya saja, keberterimaan di pasar global masih menjadi tantangan. Padahal ISPO dan RSPO itu sudah legitimate, dan menunjukkan kita benar-benar komit terhadap keberlanjutan,” ujar Olvy.
 
Dirinya menambahkan bahwa persepsi negatif di sejumlah negara pengimpor masih menjadi hambatan utama. Beberapa pasar masih mempertanyakan standar sawit Indonesia meski faktanya telah memenuhi berbagai persyaratan internasional. 
 
Karena itu, pemerintah terus menggalang diplomasi melalui forum-forum global untuk meningkatkan penerimaan pasar terhadap produk-produk hijau dari Indonesia.
 
Dalam konteks perdagangan internasional, isu lingkungan kini menjadi salah satu syarat utama dalam persaingan global. Negara-negara maju mulai memberlakukan regulasi ketat terhadap produk yang masuk, termasuk jejak karbon dan standar keberlanjutan. 
 
Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk menyesuaikan diri dan mengambil peran lebih besar.
 
Pemerintah juga mengajak sektor swasta, asosiasi industri, dan pelaku UMKM untuk bersinergi dalam mendorong pertumbuhan komoditas hijau.
 
Menurut Olvy, kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan agar produk-produk ramah lingkungan Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar global tanpa mengorbankan prinsip perlindungan lingkungan hidup.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa