Akurat

Dongkrak Harga CPO Global, B50 Untungkan Petani Sawit

Hefriday | 30 Mei 2025, 18:53 WIB
Dongkrak Harga CPO Global, B50 Untungkan Petani Sawit

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia berencana mendorong penggunaan bahan bakar nabati berbasis sawit atau Biodiesel 50 (B50) mulai tahun 2026.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman meyakini, langkah ini akan berdampak signifikan terhadap pasar minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) global, terutama dalam bentuk kenaikan harga.

Amran menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan program B50, Indonesia akan mengalihkan 5,3 juta ton CPO dari kuota ekspor tahunannya. 
 
“Kami ekspor tahun lalu 26 juta ton. Kalau kami cabut 5 juta ton, berarti tinggal 21 juta ton. Harganya naik atau turun? Ya, naik,” ujarnya dalam acara syukuran 4 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) di Jakarta, Jumat (30/5/2025).
 
 
Program B50 sendiri adalah campuran antara 50% biodiesel yang berasal dari CPO dan 50% bahan bakar solar konvensional.
 
Dengan tingginya permintaan untuk produksi biodiesel ini, permintaan domestik atas CPO akan meningkat signifikan, sehingga mendorong pengurangan suplai ke pasar internasional.
 
Diketahui, Indonesia merupakan produsen utama CPO dunia, dengan pangsa pasar sebesar 65,94%.
 
Karena itu, Amran meyakini bahwa pengurangan pasokan ekspor sebesar 5,3 juta ton akan berpengaruh langsung terhadap kenaikan harga CPO global. 
 
“Kalau harga naik, berarti petani sejahtera, kan? Senang kalau petani sejahtera,” tuturnya.
 
Meski volume ekspor akan dikurangi, Amran memastikan ekspor ke sejumlah negara utama tidak akan terganggu. 
 
“Masalah ekspor kita ke Eropa itu hanya butuh 2,3 juta ton. Amerika Serikat 1,7 juta ton. Tidak ada masalah ekspor,” ucapnya. 
 
Dengan sisa 21 juta ton CPO, Indonesia masih bisa memenuhi permintaan dari kedua kawasan tersebut.
 
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan kesiapan Indonesia untuk menerapkan program B50 pada 2026 mendatang.
 
Ia menyebutkan bahwa pasokan bahan baku biodiesel, yaitu Fatty Acid Methyl Ester (FAME), dalam negeri sudah cukup memadai.
 
FAME adalah produk hasil olahan minyak nabati, termasuk CPO, yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk mesin diesel.
 
Menurut Yuliot, pengadaan bahan baku untuk B50 tidak memerlukan perluasan lahan sawit yang signifikan. 
 
“Dengan adanya program replanting, ini mencukupi kebutuhan. Jadi, mungkin penambahan lahannya tidak terlalu besar,” katanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa