Harga Minyak Anjlok, Proyek Ambisius Arab Saudi Terancam Tersendat

AKURAT.CO Keputusan OPEC+ menaikkan produksi minyak secara agresif pada Juni 2025 memicu penurunan tajam harga minyak global. Kebijakan ini justru berbalik menghantam negara-negara produsen, termasuk Arab Saudi, yang tengah bergantung pada pendapatan minyak untuk membiayai proyek raksasa seperti Neom.
Dikutip dari laman reuters, peningkatan produksi minyak oleh OPEC+ sebesar 411.000 barel per hari untuk bulan Juni mendatang kembali mengguncang pasar energi dunia.
Bukannya menenangkan pasar, langkah agresif ini justru membuat harga minyak meluncur ke level terendah dalam empat tahun terakhir, yakni di kisaran USD61 per barel. Dampaknya langsung terasa, terutama bagi negara-negara produsen seperti Arab Saudi.
Arab Saudi selama ini menggantungkan pendapatan negara pada ekspor minyak mentah. Dengan harga minyak saat ini, Riyadh diperkirakan akan mengalami defisit besar dalam anggaran belanja, terutama untuk proyek-proyek ambisius seperti pembangunan kota futuristik Neom yang merupakan bagian inti dari Visi 2030 Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Nanjak Tersulut Sanksi Baru AS ke Rusia
Diketahui sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan prospek ekonomi kawasan Timur Tengah dan menegaskan bahwa Arab Saudi membutuhkan harga minyak di atas USD90 per barel hanya untuk menutupi pengeluaran pemerintah.
Situasi tersebut pada akhirnya menempatkan Riyadh dalam dilema strategis, terus menekan harga demi kepatuhan internal OPEC+, atau menyelamatkan ekonomi domestik dari jurang ketergantungan energi.
Tak hanya Arab Saudi, produsen AS juga turut terdampak. Di bawah tekanan Presiden Donald Trump untuk meningkatkan produksi domestik dan menurunkan harga energi, banyak perusahaan justru mengeluhkan bahwa harga saat ini tak cukup untuk menutupi biaya operasional, apalagi memperluas kapasitas produksi.
"Ini bukan strategi keberlanjutan, ini strategi bertahan hidup," ujar seorang eksekutif perusahaan minyak AS yang enggan disebutkan namanya. Dirinya menyebut bahwa banyak produsen shale oil tengah menimbang opsi pengurangan produksi atau merger untuk bertahan.
Baca Juga: OPEC Optimistis Permintaan Minyak Dunia Akan Terus Meningkat
Sementara itu, ketegangan antara Rusia dan Arab Saudi juga mulai mencuat ke permukaan. Meskipun kedua negara sepakat menaikkan produksi, belum ada kejelasan mengenai sikap Rusia dalam menghadapi dampak ekonomi dari kebijakan ini.
Presiden Vladimir Putin, yang membutuhkan pemasukan untuk mendanai perang berkepanjangan dengan Ukraina, kemungkinan akan tertekan jika harga tetap rendah.
Pasar kini memasuki fase yang penuh ketidakpastian. Di satu sisi, terdapat potensi disrupsi produksi dari Timur Tengah dan sanksi barat terhadap Rusia. Di sisi lain, pelemahan permintaan global khususnya dari China dan Eropa membuat kelebihan pasokan menjadi ancaman nyata yang bisa menjungkirbalikkan stabilitas energi dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 2Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 8Prediksi Skor Bayern vs Arsenal 22 Oktober 2026: Duel Produktivitas dan Pertahanan
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja








