SBY: Keluar dari OPEC Pilihan Realistis Saat Indonesia Jadi Pengimpor Minyak

AKURAT.CO Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan alasan di balik keputusan pemerintah pada masanya untuk menarik keanggotaan Indonesia dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Adapun, OPEC adalah sebuah organisasi antarpemerintah yang didirikan pada tahun 1960 untuk mengoordinasikan kebijakan perminyakan dan menjaga stabilitas pasar minyak global.
Indonesia sendiri pernah menjadi anggota OPEC sejak 1962, namun menangguhkan keanggotaan pada 2008 di masa pemerintahan SBY.
Baca Juga: Gawat! Konflik Internal OPEC+ Makin Memanas, Kazakhstan Jadi Sasaran Kemarahan Riyadh
Menurut SBY, keputusan tersebut diambil karena status Indonesia telah berubah dari negara pengekspor minyak menjadi negara pengimpor (net importer). Dengan kondisi itu, lanjutnya, keanggotaan di OPEC tidak lagi mencerminkan realitas energi nasional.
“Kalau mindsetnya itu kita ini kan kaya minyak, Bisa berbuat apa saja, Kita masuk OPEC The Organization of Petroleum Exporting Countries, Mindset itu Ketika kita menjadi Net Importer Pasti keliru,” kata SBY dalam Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2025, Senin (6/10/2025).
SBY menjelaskan, pada masa dirinya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi atau saat ini ESDM pada 1999, produksi minyak Indonesia mencapai 1,5 juta barel per hari
Namun, saat ini produksi tersebut terus mengalami penurunan hingga kini hanya sekitar 600 ribu barel per hari.
“Padahal waktu saya menteri energi dulu, kita punya produksi minyak satu hari 1,5 juta barel per hari. Sekarang tinggal 600 ribu. Jadi harus dibuang pemikiran bahwa kita ini kaya minyak,” ujarnya.
Baca Juga: OPEC Optimistis Permintaan Minyak Dunia Akan Terus Meningkat
SBY menegaskan, ketergantungan terhadap minyak bumi justru menjadi penghambat dalam membangun kemandirian energi nasional. Karena itu, Indonesia harus melakukan pergeseran besar menuju pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).
Dirinya juga menyoroti pentingnya strategi yang matang untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Pandai-pandailah kita menentukan komitmen seperti negara lain. Resources kita belum optimal, bagaimana membuatnya menjadi optimal? What kind of strategy, what kind of policy, what kind of technology, what kind of partnership, dan tentunya kepemimpinan seperti apa?” ucap SBY.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










