Usai menghadiri pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Sudaryono menyatakan bahwa langkah pompanisasi merupakan bagian dari instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam memastikan ketersediaan air bagi petani di musim kemarau.
Menurutnya, Presiden menginginkan solusi konkret agar petani tetap bisa menanam meski menghadapi keterbatasan air.
"Tadi Presiden menyampaikan bahwa harus ada solusi bagaimana petani yang tadinya di musim kemarau nggak bisa nanam karena nggak ada air. Bagaimana supaya ada air? Kalau perlu ada pompa, nah ini pompanisasi tetap kami laksanakan lagi di tahun 2025," ujar Sudaryono di Jakarta, Rabu (12/3/2025).
Pompanisasi sendiri merupakan teknik irigasi yang mengandalkan penggunaan pompa untuk mengalirkan air ke lahan pertanian. Langkah ini dinilai efektif dalam meningkatkan produktivitas pertanian, terutama di daerah yang sering mengalami kekeringan saat musim kemarau tiba.
Pada 2024, program pompanisasi telah diterapkan secara luas dan terbukti mampu menjaga keberlanjutan produksi pangan. Data Kementan menunjukkan bahwa pompanisasi berhasil meningkatkan indeks pertanaman dari hanya satu kali panen menjadi tiga kali dalam setahun.
Keberhasilan ini mendorong pemerintah untuk memperluas dan meningkatkan implementasi program pada tahun berikutnya.
Menurut laporan Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Kementan, pompanisasi 2024 telah mencakup pemasangan 62.378 unit pompa alat mesin pertanian (alsintan) serta 9.904 unit irigasi perpompaan di berbagai sentra produksi pangan.
Dengan meningkatnya kebutuhan irigasi di musim kemarau, Kementan berencana menambah jumlah unit pompa dan memperluas jangkauan program ini.
"Keberhasilan pompanisasi di tahun lalu bisa kita duplikasi. Jadi pompa yang lama tetap didayagunakan, ditambah kita pengadaan pompa baru," kata Sudaryono.
Ia optimistis bahwa peningkatan jumlah pompa akan semakin membantu petani menjaga produktivitas mereka di tengah tantangan musim kering.
Selain menyediakan pompa air, Kementan juga menyiapkan berbagai bantuan pertanian lain untuk memastikan keberlanjutan produksi pangan.
Salah satu program pendukungnya adalah distribusi benih unggul bagi petani terdampak cuaca ekstrem, termasuk kekeringan maupun banjir.