Akurat

RI Bisa Tekor Rp65 Triliun Jika Freeport Tak Ekspor Konsentrat Tembaga

Camelia Rosa | 20 Februari 2025, 16:11 WIB
RI Bisa Tekor Rp65 Triliun Jika Freeport Tak Ekspor Konsentrat Tembaga

AKURAT.CO Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas mengklaim negara berpotensi kehilangan pendapat hingga USD4 miliar atau sekitar Rp65 triliun per tahun apabila perusahaan tidak diizinkan kembali melakukan ekspor konsentrat tembaga. 

Tony menuturkan, hilangnya pendapatan negara tersebut disebabkan oleh 1,5 juta dry metric ton (dmt) konsentrat yang tidak dapat dimurnikan di dalam negeri.
 
Hal ini dampak terhentinya operasi smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur yang mengalami kebakaran pada 18 Oktober 2024 lalu.
 
"Dan kalau kita nilai dengan harga yang sekarang ini, itu nilainya bisa lebih dari USD5 miliar dolar, dimana dari USD5 miliar itu pendapatan negara berupa bea keluar, royalty, dividen, pajak perseruan badan, itu akan bisa mencapai USD4 miliar dolar, atau sekitar Rp65 triliun," tuturnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (19/2/2025). 
 
 
Tony menambahkan, dampak lain dari tidak adanya ekspor konsentrat oleh Freeport yaitu potensi hilangnya pendapatan daerah, yakni Papua Tengah.
 
"Kemudian juga dampak terhadap daerah, yang terdampak apabila kami tidak bisa melakukan ekspor untuk Provinsi Papua Tengah kira-kira Rp1,3 triliun, Kabupaten Mimika Rp2,3 triliun, dan kabupaten lain di Papua Tengah sekitar Rp2 triliun, atau totalnya Rp5,6 triliun," ungkapnya. 
 
Kemudian, lanjut Tony, ada pula dana kemitraan yang otomatis berkurang. Pasalnya, saat pendapatn perseroan berkurang maka dana kemitraan untuk pengembangan masyarakat yang jumlahnya 1% dari pendapatan tersebut juga berkurang. Angkanya bahkan ditaksir hampir Rp1 triliun.
 
"Dan sesuai dengan IUPK PTFI bahwa konsentrat dapat diekspor apabila terjadi keadaan kahar, namun diperlukan penyesuaian dari Kementerian ESDM untuk mengatur ekspor tersebut karena keadaan kahar ini," tukas Tony. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.