Freeport Ungkap Hasil Investigasi Kebakaran Smelter Gresik
Hefriday | 19 Februari 2025, 15:52 WIB

AKURAT.CO Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, mengungkapkan hasil investigasi terkait kebakaran smelter yang terjadi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur.
Menurut hasil pemeriksaan, insiden tersebut tidak disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan dari pihak pekerja. Tony juga menegaskan bahwa penyebab kebakaran tidak berasal dari kesalahan operasional karyawan.
"Bareskrim (Polri) menyatakan bahwa kejadian kebakaran tersebut adalah bukan karena kelalaian atau kealpaan atau kesalahan dari pekerja," ujarnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR di Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Meskipun demikian, Tony tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai faktor penyebab kebakaran smelter tersebut, sehingga beberapa aspek masih belum terungkap secara detail.
Kejadian kebakaran itu terjadi pada 14 Oktober 2024 pukul 17.45 WIB di area pabrik pemurnian (smelter) milik PTFI di Gresik. Api pertama kali terdeteksi oleh teknisi listrik PT Chiyoda International Indonesia di WESP Stage 1C.
Setelah api mulai menyebar, terjadi ledakan yang membuat situasi semakin kritis. Emergency Response Team (ERT) segera dikerahkan, dan dengan bantuan pihak eksternal, api berhasil dipadamkan secara total pada pukul 22.16 WIB.
Tony menyatakan, yang menunjukkan respons cepat tim tanggap darurat dalam menghadapi situasi tersebut. Insiden ini mengakibatkan kerusakan berat pada seluruh komponen material di area WESP sehingga tidak dapat dioperasikan.
"Api berhasil kami padamkan dalam waktu kira-kira 4 jam," sambungnya.
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827 K/30/MEM/2018, kebakaran ini dikategorikan sebagai "Kejadian Berbahaya." Klasifikasi tersebut menandakan adanya dampak signifikan yang memerlukan penanganan intensif.
Menanggapi kejadian tersebut, PTFI telah segera melakukan berbagai upaya perbaikan. Langkah-langkah yang ditempuh meliputi proses demolition, pembelian peralatan baru untuk perbaikan, serta persiapan konstruksi dan instalasi alat-alat penunjang operasional.
Tony menjelaskan, perusahaan berkomitmen untuk segera mengembalikan kondisi smelter ke keadaan normal.
"Sekarang tengah berlangsung di saat yang bersamaan, beberapa peralatan sudah ada yang selesai dipasang dan pertengahan Maret itu akan kita mulai testing, commissioning dari beberapa peralatan," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pekan lalu, tiga pesawat kargo Boeing 747 yang membawa peralatan dengan total berat lebih dari 30 ton telah tiba di Surabaya.
Tony pun mengungkapkan, sebagai bukti percepatan proses perbaikan dengan menggunakan transportasi udara agar waktu pengiriman tidak terbuang lama. "Peralatannya sekitar 30 ton lebih dan juga ada pesawat Antonov yang kami sewa juga untuk sudah tiba di Surabaya membawa peralatan," ungkapnya.
Tony menegaskan bahwa langkah penggunaan pesawat untuk mengangkut peralatan merupakan strategi untuk mempercepat perbaikan. Ia menyimpulkan, bahwa uji coba (testing) serta commissioning fasilitas perbaikan akan dimulai pertengahan Maret hingga minggu ketiga bulan Juni.
"Agar cepat selesai. Kalau kita angkut naik kapal laut akan lama sekali, sehingga kita bawa peralatannya dengan menggunakan pesawat terbang," tegasnya.
Menurutnya, produksi diperkirakan bisa ramp up hingga 40% pada minggu keempat bulan Juni. Dengan berbagai upaya ini, Freeport optimis dapat segera memulihkan operasi smelter dan meminimalisir dampak terhadap kegiatan produksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










