Pemerintah Canangkan Tak Impor 4 Komoditas Pangan Ini di 2025
Hefriday | 9 Desember 2024, 22:29 WIB

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menegaskan ambisi besar untuk mencapai kemandirian pangan pada 2025, khususnya untuk empat komoditas utama yaitu beras konsumsi, jagung pakan, gula konsumsi, dan garam konsumsi.
Menteri Koordinator bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa kebijakan ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.
"Kita menargetkan pada 2025 tidak ada lagi impor beras untuk konsumsi, jagung untuk pakan, gula konsumsi, maupun garam konsumsi," ujar Zulkifli usai memimpin Rapat Koordinasi Terbatas Penetapan Neraca Komoditas Pangan di Jakarta, Senin (9/12/2024).
Langkah ini tidak hanya bertujuan mencukupi kebutuhan domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor jika produksi melampaui kebutuhan. Contohnya adalah jagung untuk pakan ternak, di mana pemerintah memproyeksikan produksi hingga 16,68 juta ton pada 2025, jauh melampaui kebutuhan domestik yang sebesar 13 juta ton. "Kelebihan ini tentu dapat menjadi peluang untuk ekspor," jelas Zulkifli.
Upaya mencapai target ini melibatkan berbagai strategi. Dalam hal gula konsumsi, pemerintah menargetkan produksi dalam negeri sebesar 2,6 juta ton pada 2025.
Untuk mencapainya, pemerintah mengembangkan bibit unggul, memperbaiki manajemen perkebunan, serta mendorong kolaborasi dengan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal.
Sementara itu, produksi garam konsumsi ditargetkan mencapai 2,25 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan domestik sebesar 1,76 juta ton. Dengan produksi yang memadai, Indonesia diharapkan tidak lagi bergantung pada impor garam, yang selama ini menjadi tantangan akibat kualitas garam lokal yang belum sepenuhnya memenuhi standar industri.
Komoditas beras juga menjadi prioritas utama. Pemerintah memproyeksikan produksi mencapai 32 juta ton pada 2025, lebih tinggi dari kebutuhan nasional sebesar 31 juta ton. Kelebihan produksi ini akan digunakan untuk memperkuat cadangan pangan nasional, terutama sebagai antisipasi terhadap bencana alam atau peristiwa luar biasa lainnya.
Meskipun ambisius, rencana ini bukan tanpa tantangan. Infrastruktur pertanian, perubahan iklim, dan kualitas lahan menjadi kendala yang harus diatasi. "Kami optimistis, dengan perencanaan dan implementasi yang tepat, target ini bisa dicapai," tambah Zulkifli.
Langkah menuju kemandirian pangan ini juga diharapkan memberikan dampak positif pada kesejahteraan petani. Dengan meningkatkan produksi dalam negeri, petani diharapkan mendapatkan pasar yang lebih luas dan harga yang stabil. Selain itu, pengurangan impor akan mengurangi tekanan pada neraca perdagangan nasional.
Namun, beberapa pengamat mengingatkan pentingnya perhatian terhadap efisiensi produksi. Dalam konteks gula, misalnya, tingkat produktivitas lahan tebu di Indonesia masih kalah dibandingkan negara-negara penghasil gula lain seperti Thailand dan India. Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa inovasi teknologi dan manajemen lahan diterapkan secara optimal.
Langkah ini juga menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemain utama di sektor pangan global. Dengan mencukupi kebutuhan domestik dan berpotensi menjadi eksportir, Indonesia dapat memperkuat posisi strategisnya di pasar internasional. "Kemandirian pangan adalah langkah besar menuju kedaulatan ekonomi," tukas Zulkifli.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










