Akurat

Gen-Z dan Etos Kerja: Harapan Baru, Tantangan Besar di Dunia Profesional

Arief Rachman | 10 November 2024, 09:00 WIB
Gen-Z dan Etos Kerja: Harapan Baru, Tantangan Besar di Dunia Profesional

AKURAT.CO Generasi Z atau Gen-Z sering dianggap memiliki kecenderungan mencari yang serba instan, sulit mengikuti instruksi, idealis, dan rentan terhadap tekanan.

Namun, kemajuan teknologi juga mendorong mereka menjadi adaptif, bersemangat dalam mempelajari hal baru, sadar akan isu sosial, serta peduli pada keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.

Direktur Corporate Affairs GoTo, Nila Marita, mengatakan, enam poin utama dalam memahami Gen-Z, yaitu kebutuhan akan transparansi, peluang berkarir yang jelas, penghargaan atas setiap kontribusi, kepercayaan dalam menjalankan tugas dengan cara masing-masing, pentingnya membangun koneksi, dan perhatian pada kesejahteraan mental.

"Di GoTo, kami menyelenggarakan program pelatihan seperti Engineering Bootcamp dan Generasi Gigih yang membantu meningkatkan keterampilan Gen-Z di dunia kerja," ujar Nila, dikutip pada Minggu (10/11/2024).

GoTo juga menerapkan fleksibilitas kerja berbasis hasil serta menyediakan aktivitas menyenangkan untuk karyawan, termasuk interaksi antara CEO dan para pemimpin perusahaan.

Baca Juga: Enam Gunung Berapi di Indonesia Berstatus Siaga dan Awas, dalam Pengawasan Penuh Pemerintah

Dosen Psikologi Universitas Paramadina, Tia Rahmania, memaparkan, pada 2025, Gen-Z akan menjadi 27 persen dari populasi angkatan kerja, namun sekitar 9,9 juta dari mereka menghadapi pengangguran karena ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar.

"Banyak Gen-Z yang mengalami stres akibat ketidakmampuan menghargai proses, ambisi besar, dan ekspektasi tinggi," jelas Tia.

Ia juga mencatat, pekerja Gen-Z kerap menuntut keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, menolak lingkungan kerja toksik, dan cenderung berpindah-pindah pekerjaan jika merasa tidak cocok.

Tia menambahkan, pola pikir YOLO (You Only Live Once), FOMO (Fear of Missing Out), dan FOPO (Fear of Other People's Opinion) semakin berkembang di kalangan Gen-Z.

Mereka lebih menekankan pendekatan amati, teliti, modifikasi dalam pekerjaan, sehingga cenderung merasa krisis identitas, sensitif terhadap hubungan sosial, dan menghadapi tekanan keuangan dari tanggungan keluarga.

Baca Juga: Rilis Laporan Tren AI di Asia Tenggara, Lazada Ungkap Manfaat Teknologi GenAI untuk eCommerce

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Paramadina, Adrian Wijanarko, menyebut, ketidakpastian ekonomi global semakin menambah kecemasan Gen-Z terhadap masa depan.

"Ketersediaan lapangan kerja yang terbatas dan literasi keuangan yang rendah membuat Gen-Z sulit mengelola keuangan pribadi. Harga rumah yang terus naik juga menjadi tantangan bagi mereka yang harus mendukung keluarga," ujarnya.

Berdasarkan riset bersama Continuum, 62 persen Gen-Z menginginkan pengakuan serta kompensasi yang adil.

Mereka cenderung memilih pekerjaan dengan kompensasi cepat setelah proyek selesai, dan berharap dapat memilih tunjangan yang sesuai kebutuhan, seperti transportasi atau komunikasi.

Rene Suhardono, seorang Career Coach dan penulis buku, menegaskan bahwa tidak semua Gen-Z memiliki karakter yang sama.

"Gen-Z bukan kelompok yang bisa disamaratakan; banyak faktor yang membentuk perilaku mereka, termasuk peran orang tua dalam mengelola dampak buruk dari teknologi," kata Rene.

Ia mengingatkan, setiap generasi memiliki keunikannya sendiri, dan penting untuk memahami perbedaan tersebut tanpa stereotip yang merata.

Baca Juga: Lagi Melintas, Pengendara Motor Kaget Jakarta Tiba-tiba Gelap

Dengan segala tantangan dan peluangnya, Gen-Z disebut sebagai pembawa harapan masa depan, siap membentuk masa depan yang mereka inginkan dengan cara mereka sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.