Bidik Swasembada Energi, Bahlil Sebut Pemerintah Sudah Siapkan Konsep B100

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengembangkan bahan bakar biodiesel hingga tahap B100, yaitu biodiesel dengan 100% kandungan Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dari minyak sawit.
Menurut Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, pihaknya tengah mempersiapkan rancangan untuk mencapai target ini secara bertahap. Saat ini, Indonesia baru menggunakan biodiesel B35, yaitu campuran 35% FAME dari minyak sawit dan 65% bahan bakar diesel.
“Salah satu rancangan yang dilakukan adalah mempersiapkan semua konsep sampai dengan B100, tapi sudah tentu itu bertahap, nanti kami laporkan (perkembangannya),” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (3/11/2024).
Pemerintah Indonesia mulai mengimplementasikan B35 pada awal 2023 sebagai bagian dari komitmen menuju energi terbarukan. Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan biodiesel B40, yang direncanakan akan mulai digunakan pada 1 Januari 2025.
“Insyaallah (diimplementasikan 1 Januari 2025), (produk B40) sudah selesai dites dan siap implementasinya,” imbuhnya.
Baca Juga: Retreat Hari Kedua Kabinet Merah Putih: Fokus Bahas Hilirisasi, B100, hingga Ketahanan Pangan
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, juga menyampaikan kesiapan pemerintah untuk menerapkan B40. Menurutnya, persiapan infrastruktur pendukung menjadi salah satu fokus utama agar implementasi B40 berjalan lancar.
"Memang perlu banyak hal untuk mempersiapkan seperti pelabuhannya, pengirimannya, logistik. Industri harus mempersiapkan, investasi butuh modal juga," ucap Eniya. Seluruh infrastruktur, termasuk sarana transportasi dan pelabuhan, ditargetkan siap pada Desember 2024, menjelang pelaksanaan wajib B40.
Selain B40, pemerintah juga mempertimbangkan pengembangan lebih lanjut ke biodiesel B50. Uji teknis penggunaan biodiesel B50 sudah dilakukan, termasuk oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kalimantan Selatan. Kajian ini bertujuan untuk memastikan bahwa mesin-mesin yang digunakan dapat beroperasi secara optimal dengan bahan bakar yang memiliki proporsi FAME lebih tinggi.
Bahlil menegaskan bahwa B100 adalah tujuan akhir dari program biodiesel ini, meskipun pencapaiannya membutuhkan waktu dan tahap pengembangan. Ia menjelaskan bahwa setiap peningkatan proporsi FAME harus melalui penelitian mendalam dan uji coba, mengingat dampaknya pada performa mesin dan infrastruktur pendukung.
Meski terlihat menjanjikan, program pengembangan biodiesel menghadapi sejumlah tantangan. Bahlil mengakui bahwa peningkatan kapasitas industri untuk mendukung produksi B100 memerlukan investasi besar.
Selain itu, industri perlu memastikan bahwa produk biodiesel memiliki kualitas yang sesuai dengan standar internasional sehingga tetap kompetitif di pasar global.
Pemerintah Indonesia terus mendorong sektor industri untuk berinvestasi dalam pengembangan teknologi yang mendukung penggunaan biodiesel berkelanjutan. Dukungan ini mencakup penyediaan regulasi yang ramah investasi serta pendampingan teknis agar industri dapat bertransisi menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Peningkatan penggunaan biodiesel diyakini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, terutama melalui pengurangan ketergantungan impor bahan bakar fosil.
Dengan meningkatnya penggunaan minyak sawit dalam biodiesel, nilai tambah komoditas lokal juga diharapkan meningkat, yang pada gilirannya akan berdampak positif terhadap kesejahteraan petani sawit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










