Akurat

Program Hilirisasi Jokowi Hasilkan 78 Ton Emas

Demi Ermansyah | 14 Oktober 2024, 17:59 WIB
Program Hilirisasi Jokowi Hasilkan 78 Ton Emas

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa hilirisasi Indonesia di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mampu memproduksi 78 ton emas.

Bahlil dalam kegiatan REPNAS National Conference & Awarding Night di Jakarta, Senin mengatakan bahwa hal itu bisa tercapai setelah Presiden Joko Widodo berhasil meminta PT Freeport agar membangun smelter berskala besar yang mampu memisahkan emas dari konsentrat tembaga.
 
"Dari presiden pertama sampai presiden terakhir ini, Pak Jokowi yang bisa meminta setengah maksa Freeport membangun smelter yang berskala besar dan sampai produknya bisa memisahkan emas dengan konsentrat tembaga, itu di zamannya Pak Jokowi. Ini sejarah," kata Bahlil, Senin (14/10/2024).
 
 
Bahlil mengungkapkan bahwa ketika dirinya masih di Papua, sering terjadi aksi demonstrasi terkait operasional Freeport Indonesia karena diduga yang dihasilkan bukan hanya konsentrat tembaga. "Dulu waktu saya masih di Papua selalu kita demo Freeport, ini jangan-jangan dia mengeluarkan konsentrat tidak hanya tembaga yang lain-lain, kenapa? Karena kita nggak punya smelter," ujarnya.
 
Dia mengungkapkan bahwa kala itu, smelter yang ada kerja sama Freeport dengan Jepang, turunannya hanya bisa menghasilkan tembaga. Sedangkan anoda dan emas belum bisa diproses. Bahlil menjelaskan, pada tahun 2021, ketika dirinya masih menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama Menteri ESDM meminta PT Freeport agar membuat smelter dengan total investasi USD3 miliar. 
 
"Totalnya USD3 miliar investasinya, dan sekarang (smelternya) sudah diresmikan dan itu adalah pabrik terbesar di dunia dengan sistem single line," terang Bahlil.
 
Menurutnya, pencapaian tersebut belum pernah terjadi sejak era presiden pertama Republik Indonesia. Di era Jokowi, Indonesia memiliki dua smelter yang dapat mendukung hilirisasi yakni smelter milik Freeport Indonesia di Gresik dan smelter Amman Mineral di Sumbawa Barat.
 
Pasalnya sebelum ada smelter di dalam negeri, produk tembaga dengan kadar kemurnian 99% masih harus dikirim ke luar negeri, seperti Filipina dan Thailand, sehingga Indonesia tidak bisa mendeteksi berapa banyak emas yang terkandung dalam konsentrat tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.