Akurat

Surplus Perdagangan Terjaga, Indonesia Kian Percaya Diri di Pasar Global

Herry Supriyatna | 25 Agustus 2024, 11:00 WIB
Surplus Perdagangan Terjaga, Indonesia Kian Percaya Diri di Pasar Global

AKURAT.CO Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga, menyampaikan optimisme terkait masa depan perdagangan Indonesia.

Dalam berbagai upaya yang telah dilakukan, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan, memperkuat posisinya di pasar global.

“Pada kuartal I-2024, Indonesia berhasil mencatatkan surplus sebesar USD10,1 miliar. Bahkan, neraca perdagangan kita telah mencatat surplus selama 50 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada periode Januari-Juli 2024, surplus neraca perdagangan mencapai USD15,92 miliar. Peringkat Indonesia dalam Indeks Daya Saing Global 2024 juga mengalami peningkatan signifikan,” jelasnya dikutip pada Minggu (25/8/2024).

Baca Juga: Prabowo Kesal Banyak Pihak yang Mengadu Domba Dirinya dengan Jokowi

Jerry juga menekankan, inflasi di Indonesia relatif terkendali, bahkan lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain. Inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2024 tercatat sebesar 2,1 persen (yoy).

Kinerja perdagangan Indonesia juga relatif stabil, meskipun ekspor mengalami pelemahan, namun neraca perdagangan tetap mencatat surplus yang berkelanjutan.

“Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2024 mampu tumbuh 5,05 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju seperti Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa,” tambah Wamendag Jerry.

Baca Juga: Prabowo Jamin Jokowi Tak Pernah Intervensi dan Titip Nama untuk Pilkada 2024

Jerry juga menggarisbawahi beberapa peluang dan tantangan yang harus dihadapi untuk menjaga momentum ini, termasuk pergeseran status ekonomi negara-negara kurang berkembang, perubahan demografi global, gangguan logistik, distribusi, rantai pasok, serta perkembangan geopolitik global.

Ia juga menyebutkan tentang praktek memindahkan rantai pasokan ke negara-negara sekutu dan usaha untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global.

Selain itu, Jerry juga melihat tantangan dalam peningkatan kontribusi perdagangan digital, kenaikan harga pangan dan energi dalam negeri, serta isu ekonomi hijau dan perdagangan berkelanjutan.

Jerry menambahkan bahwa Indonesia telah menyelesaikan perjanjian dagang dengan 26 negara/ekonomi, dan 45 negara lainnya masih dalam proses perundingan.

Baca Juga: Witan, Ridho, dan Ferarri ke Timnas Indonesia, Carlos Pena Ingatkan 'Pulang' tanpa Cedera

Mitra dagang utama Indonesia juga bergeser dari negara-negara G7 ke negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, Pakistan, Bangladesh, Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, Nigeria, Arab Saudi, Vietnam, dan Filipina.

Pergeseran ini disebabkan oleh kebijakan unilateral Uni Eropa yang menghambat perdagangan, dan berujung pada lima kasus sengketa di WTO.

“Dengan berbagai fakta tersebut, generasi muda harus memahami peluang dan tantangan global dan nasional, karena pada 2045, Indonesia diproyeksikan menjadi negara maju dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita di atas USD30 ribu atau peringkat kelim di dunia. Untuk mencapai cita-cita tersebut, pemerintah terus berusaha menjaga momentum pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan daya saing seluruh sektor,” pungkas Jerry.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.