Pemerintah Lebih Pilih Starlink, Pengalihan Isu Kasus BTS Kominfo?

AKURAT.CO Setengah juta Base Transceiver Station (BTS) lebih telah dibangun di seluruh Indonesia oleh berbagai operator seluler, namun masih terdapat wilayah-wilayah yang belum terjangkau oleh jaringan komunikasi, terutama di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T).
Untuk mengatasi ketidakmerataan ini, pemerintah sebelumnya telah merencanakan pembangunan 7.904 BTS di daerah 3T, dengan alokasi 4.200 BTS pada tahun 2021 dan 3.704 BTS pada tahun 2022.
Awalnya, proyek pembangunan BTS 4G dan infrastruktur pendukungnya yang dikelola oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika diharapkan akan membawa revolusi digital ke daerah 3T.
Baca Juga: Starlink Resmi Beroperasi di Indonesia Tapi Munculkan Pro dan Kontra
Namun, sayangnya, proyek ini malah berujung pada kerugian besar bagi negara. Padahal harga sebuah menara BTS berkisar antara Rp600 juta hingga Rp1,5 miliar. Diperkirakan kerugian negara mencapai Rp8 triliun yang digunakan untuk penyediaan infrastruktur BTS 4G dan pendukung lainnya dari tahun 2020 hingga 2022.
Delapan pelaku kejahatan korupsi terkait dengan proyek BTS telah ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani sidang, termasuk mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate.
Johnny diduga menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri dengan cara yang merugikan negara, yakni melalui manipulasi dana pembangunan menara BTS.
Saat Menkominfo Budi Arie Setiadi dilantik pada pertengahan tahun 2023, Presiden Jokowi langsung memerintahkan untuk menyelesaikan program pembangunan menara BTS 4G BAKTI di daerah 3T. Namun, hingga kini, kelanjutan banyak proyek tersebut masih tidak jelas dan banyak yang mangkrak setelah penangkapan mantan Menkominfo Johnny G. Plate.
Kini, pemerintah mengalihkan fokus dari pembangunan tower BTS ke kerja sama dengan Starlink, perusahaan internet berbasis satelit milik Elon Musk. Starlink telah mengantongi izin sebagai penyedia Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan internet (ISP) di Indonesia.
"Pak Musk, Indonesia saat ini sedang menjalani percepatan transformasi digital nasional dan membuka banyak potensi investasi di sektor infrastruktur, teknologi pemerintahan, ekonomi digital, dan masyarakat digital," kata Jokowi dalam sambutannya pada acara World Water Forum di Bali baru-baru ini.
Internet berbasis satelit yang ditawarkan oleh Starlink diakui lebih canggih dibandingkan internet berbasis BTS, menjanjikan solusi yang lebih efektif dan efisien untuk menjangkau daerah-daerah terpencil.
Kehadiran Starlink di Indonesia diharapkan dapat mengatasi kesenjangan akses internet yang selama ini menjadi masalah, terutama di daerah 3T. "Saya sangat bersemangat untuk menghadirkan konektivitas ke tempat-tempat yang konektivitasnya rendah," ungkap Elon Musk, CEO Starlink.
Dengan teknologi satelit yang lebih canggih, pemerintah berharap dapat memberikan layanan internet yang lebih merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia, menggantikan ketidakpastian proyek BTS yang mangkrak. Kini publik semakin bingung dengan kelanjutan proyek BTS yang semakin tak jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










