Akurat

Didampingi LPEI, Ekspor Kakao Desa Nglanggeran Naik dari Rp20 Ribu per Kg ke Rp120 Ribu per Kg

Yosi Winosa | 2 Mei 2024, 15:17 WIB
Didampingi LPEI, Ekspor Kakao Desa Nglanggeran Naik dari Rp20 Ribu per Kg ke Rp120 Ribu per Kg

AKURAT.CO Desa Nglanggeran, Devisa Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang terletak di Patuk, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menjadi pusat perhatian sejak tahun 2023.

Dengan 96 penanam kakao dan total tanaman mencapai 5.000-6.000 pohon, desa ini menjadi contoh keberhasilan dalam meningkatkan produksi kakao dengan kapasitas mencapai 123 kg per bulan. Pasar ekspor kakao Desa Nglanggeran kini memperlihatkan tren positif dengan peningkatan minat dari Swiss.

Menurut keterangan dari Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Maqin Norhadi, LPEI telah memberikan dukungan yang signifikan bagi desa tersebut dengan menambahkan nilai tambah pada produk yang dijual. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia di pasar internasional.

Baca Juga: Ekspor Kakao Olahan Baru 20 Persen, Kemenperin Genjot Hilirisasi

"Setelah pendampingan Desa Devisa, ada nilai tambah yang tercipta yaitu kakao fermentasi yang harga awalnya Rp25 ribu per kg, setelah diolah menjadi Rp100 ribu per kg," ujarnya
di Yogyakarta, Kamis (2/5/2024).

Menurut Lurah Nglanggeran, Widada, pemantauan dan motivasi secara kontinyu sangat penting bagi petani kakao. Dan ia menegaskan perlunya pemantauan terus-menerus terhadap perkembangan petani kakao.

Selanjutnya, Widada juga memastikan bahwa dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dianggarkan untuk dana desa dan dana keistimewaan telah dimanfaatkan secara prosedural.

"Jangan dilepas gitu aja, harus dipantau, saya beri motivasi dan sebagainya, sempat ditinjau kembali perkembangan petani kakao. Selanjutnya saya sampaikan bahwa dana APBN yang dianggarkan dana desa dan dana keistimewaan telah dimanfaatkan ke masyarakat secara prosedural," kata Widada.

Selain itu, Ketua Koperasi Amanah Boga Sejahtera dan Direktur Bumdes Nglanggeran Ahmad Nasrudin, membagikan cerita inspiratif tentang perjuangan petani kakao di desa mereka. "Kita berada di salah satu petani atau penanam kakao di desan kami, namanya Mas Beri?, profesi beliau pendidik guru SMP dia memanfaatkan lahan untuk menanam kakao," Nasrudi.

Serta, ia menjelaskan bagaimana keberhasilan mereka dalam menghadirkan LPEI pada tahun 2023 membawa perubahan signifikan bagi petani kakao. "Kakao yang hanya Rp20.000 (per kg) di 2016. Saat ini yang diekspor 7Rp0.000. Untuk sekarang klo mau ambil kakao fermentasi Rp120.000," ungkapnya.

Sementara itu, seorang petani kakao dan warga Dusun Doga Heri Yulianta, juga berbagi pengalamannya. Dan ia mengungkapkan bahwa bantuan LPEI tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga kesadaran petani.

Basic saya petani warisan orang tua sudah ada tanaman kakao yang tidak terurus. Sejak ada pendampingan LPEI dan dinas, pohon belakan sempat kena hama sekarang mulai banyak lagi. LPEI bantu SDM, untuk kesadaran, dulu bertani malu. Sekarang ga jadi pendapatan utama ketika upayakan itu hasilnya ga kalah," sambungnya.

Dengan adanya perubahan yang signifikan dalam industri kakao di Desa Nglanggeran harapan akan masa depan yang lebih cerah bagi petani kakao dan masyarakat desa semakin nyata. Melalui kerja keras dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan petani, desa ini telah menjadi contoh inspiratif bagi pengembangan sektor pertanian lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.