Ini Deretan Bos Rokok Terkaya Di Indonesia, Warisi Perusahaan Turun Temurun

AKURAT.CO Rokok merupakan salah satu industri yang memberi kontribusi besar bagi ekonomi Indonesia. Bukan tanpa alasan, eksisnya industri rokok di Indonesia juga disebabkan oleh pengguna rokok Indonesia yang sangat banyak.
Budaya merokok di Indonesia sendiri telah dikonfirmasi oleh data resmi World of Statistics yang mengatakan jumlah perokok pria di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia.
Keeksisan industri rokok di Indonesia tidak hanya memberi dampak untuk rakyat dan negara saja, melainkan juga berdampak pada si empunya perusahaan tembakau tersebut. Dengan tingginya konsumsi rokok di Indonesia, tentu perusahaan dapat menghasilkan uang yang sangat fantastis untuk pemiliknya.
Baca Juga: Leluhur Crazy Rich Indonesia! Ini 5 Fakta Menarik Oei Wie Gwan, Ayah Robert dan Michael Hartono
Lalu, terbayang kah kamu berapa harta kekayaan yang dimiliki bos-bos rokok di Indonesia? Dan siapa saja orang-orang yang merajai industri rokok Indonesia? Simak ulasannya berikut.
1. Robert Budi dan Michael Hartono (PT Djarum)
Robert Budi dan Michael Hartono merupakan kakak beradik yang mewarisi perusahaan ayahnya, Oei Wie Gwan yang meninggal pada 1963, tak lama setelah pabrik rokok Djarum terbakar habis.
Setelah pabrik Djarum habis terbakar, Robert dan Budi pun bertekad membangun kembali kejayaan Djarum dengan mengibarkan sayapnya hingga ke mancanegara.
Usaha Robert dan Michael pun akhirnya berbuah. Kini Djarum berhasil mendominasi pasar rokok kretek di Indonesia dan juga AS.
Selain industri rokok, Robert dan Michael merupakan pemegang saham terbesar di BCA dengan kepemilikan saham sebesar 51%. Selain itu, mereka memiliki perkebunan sawit dengan luas 65.000 hektare di Kalimantan Barat. Robert dan Michael juga memiliki sejumlah properti mewah seperti Grand Indonesia dan perusahaan elektronik Polytron.
Dengan kerajaan bisnisnya yang begitu besar, tak heran bila kakak beradik itu masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes edisi 2022. Keduanya memiliki harta kekayaan hingga USD47,7 miliar atau setara Rp714 triliun.
2. Susilo Wonowidjojo (PT Gudang Garam)
Susilo Wonowidjojo merupakan anak ketiga dari Surya Wonowidjojo, yang merupakan pendiri Gudang Garam. Sebelum dipegang Susilo, Gudang Garam berada di bawah kendali Rachman Halim, anak sulung Surya Wonowidjojo.
Namun setelah Rachman Halim meninggal pada 2008, kepemilikan Gudang Garam pun berpindah sepenuhnya kepada Susilo Wonowidjojo.
Berdasarkan catatan Forbes, Susilo Wonowidjojo memiliki harta kekayaan hingga USD3,5 miliar atau setara Rp52,5 triliun. Dengan kekayaan sebesar itu, tak heran jika Susilo berhasil menempati peringkat ke-14 daftar orang terkaya di Indonesia.
3. Putera Sampoerna (HM Sampoerna)
Putera Sampoerna merupakan generasi ketiga penerus kerajaan bisnis HM Sampoerna yang awalnya dibangun oleh Liem Seeng Tee. Generasi kedua HM Sampoerna dipegang oleh Ayah Putera, Liem Swie Ling atau Aga Sampoerna.
Putera Sampoerna memiliki kekayaan sebesar USD1,7 miliar atau setara Rp25 triliun. Selain industri rokok, Putera Sampoerna juga menjalankan bisnis perkebunan, keuangan, pengolahan kayu, properti, telekomunikasi, hingga mansion.
4. John Kusuma (PT Nojorono Tobacco)
John Dharma Kusuma atau John Kusuma merupakan generasi ketiga dari keluarga PT Nojorono Tobacco International yang merupakan pembuat rokok terbesar kelima di Indonesia.
Dikutip melalui Forbes, PT Nojorono Tobacco yang didirikan sejak tahun 1932 itu berhasil menjual sekitar 10 miliar batang rokok di Indonesia setiap tahunnya.
Selain memiliki bisnis rokok, John Kusuma juga memperoleh kekayaannya dari saham mayoritas Bank Aladin Syariah. Pada 2019, John Kusuma mengakuisisi saham di bank tersebut dan meningkatkan kepemilikannya di 2020.
John Kusuma sendiri pernah terdaftar sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada 2022 lalu dengan total kekayaan USD1,1 miliar atau setara Rp14,73 triliun. Namun, kini John Kusuma tak lagi masuk daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
5. Oei Bian Hok (Wismilak)
Oei Bian Hok merupakan bos dari Wismilak, perusahaan rokok Indonesia yang didirikan pada 1962 di Surabaya.
Dalam laporan keuangan Wismilak tahun 2022 lalu, Oei Bian melalui Wismilak berhasil mengantongi Rp757,5 miliar dari hasil penjualan neto rokoknya hanya dalam tiga bulan pertama di 2022.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










