Akurat

Apa Itu Makruh? Pengertian, Contoh, dan Bedanya dengan Haram yang Perlu Dipahami

Idham Nur Indrajaya | 22 Februari 2026, 05:01 WIB
Apa Itu Makruh? Pengertian, Contoh, dan Bedanya dengan Haram yang Perlu Dipahami

AKURAT.CO Pernah dengar seseorang berkata, “Itu makruh, sebaiknya ditinggalkan”? Banyak orang tahu istilah ini, tapi tidak benar-benar paham apa itu makruh dan bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian orang mengira makruh sama dengan haram. Sebagian lagi menganggap makruh tidak penting karena tidak berdosa jika dilakukan. Padahal dalam hukum Islam, makruh punya posisi penting sebagai batas antara yang boleh dan yang dilarang.

Memahami makruh membantu seseorang menjalankan agama dengan lebih sadar — bukan sekadar menghindari dosa, tetapi juga memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak.


Apa Itu Makruh?

Makruh adalah perbuatan yang tidak dianjurkan dalam Islam, tetapi tidak berdosa jika dilakukan. Namun, seseorang akan mendapat pahala jika meninggalkannya karena ingin taat kepada Allah.

Makruh memiliki ciri utama:

  • Lebih baik ditinggalkan daripada dilakukan

  • Tidak menimbulkan dosa secara langsung

  • Termasuk dalam hukum Islam selain wajib, sunnah, mubah, dan haram

  • Menunjukkan sesuatu yang tidak disukai oleh syariat

Secara sederhana, makruh bisa dipahami sebagai perbuatan yang boleh dilakukan, tetapi sebaiknya dihindari.


Makruh dalam Hukum Islam (Ahkam Al-Fiqh)

Dalam hukum Islam dikenal lima kategori utama yang disebut ahkam al-khamsa. Makruh berada di posisi yang unik karena tidak sepenuhnya dilarang, tetapi juga tidak dianjurkan.

Lima hukum Islam tersebut adalah:

  1. Wajib → Harus dilakukan

  2. Sunnah → Dianjurkan dilakukan

  3. Mubah → Netral atau boleh

  4. Makruh → Tidak dianjurkan

  5. Haram → Dilarang keras

Posisi makruh berada di antara mubah dan haram. Artinya, makruh adalah wilayah "abu-abu" yang sering menjadi ujian kedisiplinan spiritual seseorang.

Banyak ulama menjelaskan bahwa orang yang berusaha meninggalkan makruh biasanya lebih mudah menjaga diri dari perbuatan haram.


Jenis-Jenis Makruh dalam Islam

Tidak semua makruh memiliki tingkat yang sama. Para ulama membaginya menjadi dua kategori utama.

1. Makruh Tahrimi

Makruh tahrimi adalah makruh yang mendekati haram. Perbuatan ini sangat tidak dianjurkan dan sebaiknya dihindari.

Sebagian ulama menyebut bahwa makruh tahrimi memiliki dalil yang kuat tetapi tidak sampai pada tingkat haram yang pasti.

Contohnya:

  • Memakai emas bagi laki-laki menurut sebagian ulama

  • Mengabaikan kewajiban secara tidak serius

  • Melakukan sesuatu yang hampir menyerupai perbuatan haram

Makruh jenis ini sering dianggap sebagai "zona berbahaya" karena mudah mengarah ke dosa.


2. Makruh Tanzih

Makruh tanzih adalah makruh yang ringan. Ini adalah jenis makruh yang paling umum dipahami.

Perbuatan ini tidak berdosa jika dilakukan, tetapi lebih baik ditinggalkan.

Contohnya:

  • Menggunakan air berlebihan saat wudhu

  • Makan bawang sebelum salat berjamaah

  • Tidur setelah Subuh tanpa keperluan

  • Berbicara terlalu banyak saat berwudhu

Makruh tanzih biasanya berkaitan dengan adab dan kesempurnaan ibadah.


Contoh Makruh dalam Kehidupan Sehari-hari

Makruh tidak hanya ada dalam kitab fiqh. Banyak contoh makruh yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa di antaranya:

1. Makan makanan berbau tajam sebelum salat berjamaah
Bau menyengat bisa mengganggu orang lain di masjid.

2. Berlebihan menggunakan air saat wudhu
Islam mengajarkan kesederhanaan bahkan dalam ibadah.

3. Menunda salat tanpa alasan jelas
Tidak berdosa jika masih dalam waktunya, tetapi tidak dianjurkan.

4. Banyak berbicara ketika berwudhu
Bisa mengurangi kekhusyukan ibadah.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa makruh sering berkaitan dengan etika dan kesempurnaan ibadah.


Perbedaan Makruh dan Haram yang Sering Disalahpahami

Banyak orang masih bingung membedakan makruh dan haram. Padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat jelas.

Makruh:

  • Tidak dianjurkan

  • Tidak berdosa jika dilakukan

  • Mendapat pahala jika ditinggalkan

Haram:

  • Dilarang keras

  • Berdosa jika dilakukan

  • Wajib ditinggalkan

Perbedaan ini penting karena salah memahami makruh bisa membuat seseorang terlalu meremehkan atau justru terlalu takut pada hal yang sebenarnya tidak berdosa.


Kenapa Makruh Tetap Penting untuk Dipahami?

Sekilas makruh terlihat tidak terlalu penting karena tidak berdosa jika dilakukan. Namun justru di sinilah nilai sebenarnya.

Orang yang terbiasa mengabaikan makruh biasanya lebih mudah melanggar batas yang lebih berat.

Makruh berfungsi sebagai "zona pengaman" sebelum seseorang masuk ke wilayah haram. Dalam banyak kasus, kebiasaan kecil yang dianggap sepele bisa menjadi awal dari pelanggaran yang lebih serius.

Makruh juga menunjukkan kualitas ketakwaan seseorang. Semakin seseorang menjaga diri dari hal yang makruh, semakin tinggi tingkat kehati-hatiannya dalam beragama.


Contoh Kasus Sederhana dalam Kehidupan Nyata

Bayangkan seseorang terbiasa menunda salat selama masih dalam waktunya. Secara hukum memang tidak berdosa.

Namun kebiasaan ini bisa berkembang menjadi:

  • Salat mendekati habis waktu

  • Salat tergesa-gesa

  • Bahkan akhirnya tertinggal

Awalnya hanya makruh, tetapi bisa berujung pada pelanggaran kewajiban.

Hal yang sama juga terjadi pada kebiasaan kecil seperti boros air saat wudhu atau sering mengganggu orang lain tanpa sadar.


Kenapa Memahami Makruh Penting bagi Generasi Muda?

Banyak anak muda fokus pada satu pertanyaan: "Hal ini dosa atau tidak?"

Padahal Islam tidak hanya mengatur dosa dan pahala, tetapi juga kualitas akhlak dan kesadaran diri.

Memahami makruh membantu seseorang:

  • Lebih disiplin dalam ibadah

  • Lebih peka terhadap orang lain

  • Lebih berhati-hati dalam bertindak

  • Meningkatkan kualitas keimanan

Di tengah gaya hidup yang serba cepat, konsep makruh mengajarkan bahwa menjadi baik tidak hanya berarti menghindari yang haram, tetapi juga menjauhi hal-hal yang tidak pantas.


Penutup

Banyak orang sibuk memastikan dirinya tidak melakukan hal yang haram, tetapi jarang bertanya apakah kebiasaan sehari-harinya termasuk makruh.

Padahal sering kali kualitas iman terlihat bukan dari hal besar yang dihindari, melainkan dari hal kecil yang dijaga.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi "Apakah ini dosa?", tetapi "Apakah ini sudah yang terbaik?"

Memahami batas makruh bisa menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih sadar dan lebih tertata. Teruslah memperdalam pemahaman agar setiap pilihan hidup menjadi lebih bermakna.

Baca Juga: Mudik Lebaran dalam Islam: Hukum, Adab, dan Hikmah Silaturahmi Idulfitri

Baca Juga: Muhammadiyah Tegaskan Merokok Haram dan Membatalkan Puasa Ramadan

FAQ Seputar Makruh dalam Islam

Apa itu makruh dalam Islam secara sederhana?
Makruh adalah perbuatan yang tidak dianjurkan dalam Islam tetapi tidak berdosa jika dilakukan. Seorang Muslim akan mendapatkan pahala jika meninggalkan perbuatan makruh karena ketaatan kepada Allah. Secara sederhana, makruh adalah sesuatu yang boleh dilakukan namun lebih baik dihindari demi kesempurnaan ibadah dan akhlak.

Apa perbedaan makruh dan haram dalam hukum Islam?
Perbedaan makruh dan haram terletak pada tingkat larangannya. Haram adalah perbuatan yang dilarang keras dan berdosa jika dilakukan, sedangkan makruh hanya tidak dianjurkan dan tidak menimbulkan dosa. Meski begitu, meninggalkan perbuatan makruh tetap bernilai pahala karena menunjukkan ketaatan kepada syariat.

Apa saja contoh makruh dalam kehidupan sehari-hari?
Contoh makruh dalam kehidupan sehari-hari antara lain menggunakan air secara berlebihan saat wudhu, makan makanan berbau menyengat sebelum salat berjamaah, atau menunda salat tanpa alasan yang jelas selama masih dalam waktunya. Perbuatan tersebut tidak berdosa, tetapi lebih baik dihindari karena dapat mengurangi kesempurnaan ibadah.

Apakah melakukan perbuatan makruh bisa berdosa?
Secara umum, melakukan perbuatan makruh tidak menyebabkan dosa karena tidak termasuk larangan keras dalam hukum Islam. Namun sebagian ulama menjelaskan bahwa jika seseorang sengaja dan terus-menerus melakukan hal yang makruh tanpa alasan, maka sikap tersebut dapat dianggap tercela dan berpotensi mendekatkan pada perbuatan haram.

Apa saja jenis makruh dalam hukum Islam?
Dalam ilmu fiqh, makruh dibagi menjadi dua jenis yaitu makruh tanzih dan makruh tahrimi. Makruh tanzih adalah makruh ringan yang hanya lebih baik ditinggalkan, sedangkan makruh tahrimi adalah makruh yang mendekati haram menurut sebagian ulama. Kedua jenis ini sama-sama menunjukkan perbuatan yang tidak disukai dalam syariat.

Mengapa umat Islam dianjurkan meninggalkan makruh?
Umat Islam dianjurkan meninggalkan makruh karena hal itu dapat meningkatkan kualitas ketakwaan dan menjaga diri dari perbuatan yang lebih berat seperti haram. Dengan menjauhi perbuatan yang tidak dianjurkan, seseorang akan lebih disiplin dalam menjalankan ajaran agama dan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.