Akurat

Menurut Ali bin Abi Thalib, Bagaimana Iman Itu Terlihat? Berikut Penjelasan Lengkapnya!

Idham Nur Indrajaya | 21 Desember 2025, 17:12 WIB
Menurut Ali bin Abi Thalib, Bagaimana Iman Itu Terlihat? Berikut Penjelasan Lengkapnya!

AKURAT.CO Menurut Ali bin Abi Thalib, bagaimana iman itu terlihat? Iman adalah fondasi utama dalam Islam. Ia tidak sekadar tinggal di hati, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Sebagai sepupu, sahabat, dan menantu Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib memiliki pandangan yang sangat mendalam mengenai hakikat iman. Lalu, bagaimana sebenarnya iman itu terlihat menurut Ali bin Abi Thalib? Mari kita telusuri pemikiran beliau secara lengkap.

Ciri-Ciri Orang Beriman Menurut Al-Qur’an

Allah SWT menegaskan ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Anfal ayat 2-4:

  • Ayat 2-3: “Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

  • Ayat 4: “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.”

Dari ayat ini terlihat bahwa keimanan bukan hanya keyakinan internal, tetapi harus memengaruhi hati, ucapan, dan tindakan sehari-hari.

Makna Iman Menurut Ali bin Abi Thalib

Dalam buku Biografi Ali bin Abi Thalib karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ali menjelaskan:

"Iman adalah ma'rifat dengan hati, pengakuan dengan lidah dan tindakan dengan anggota-anggota badan."

Artinya, iman memiliki tiga pilar utama yang saling melengkapi:

  1. Keyakinan dalam hati
    Iman dimulai dari keyakinan mendalam bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Esa dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Keyakinan ini menjadi dasar semua perbuatan dan ucapan.

  2. Pengucapan dengan lisan
    Ucapan syahadat bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan nyata atas keyakinan dalam hati. Lisan yang jujur mencerminkan kualitas iman.

  3. Amal perbuatan
    Keimanan harus diwujudkan melalui perbuatan baik atau amal shalih. Semakin banyak amal baik, semakin kuat dan tampak pula kualitas iman seseorang.

Ali bin Abi Thalib bahkan menggambarkan iman melalui simbolisme warna hati:

"Keimanan muncul dalam hati manusia tampak seperti sesuatu yang berwarna putih. Semakin bertambah keimanan seseorang maka hati tersebut semakin bertambah putihnya. Dan sebaliknya, semakin bertambah nifaknya maka semakin bertambah warna hitamnya."

Hati yang bersih menunjukkan iman yang kuat, sementara hati yang gelap menandakan kemunafikan atau dosa yang menumpuk.

Pilar-Pilar Iman dalam Kehidupan Sehari-hari

Ali bin Abi Thalib menekankan bahwa iman harus tampak dalam sikap, ucapan, dan tindakan sehari-hari. Beberapa pilar utama yang bisa diterapkan antara lain:

1. Sabar

Sabar bukan hanya menahan diri, tetapi juga meliputi kesadaran akan surga, takut pada neraka, sikap zuhud terhadap dunia, dan kesadaran akan kematian. Orang beriman akan menahan hawa nafsu, tetap taat, dan terus beramal baik meski diuji.

2. Yakin

Yakin berarti memahami makna setiap kejadian, mengambil pelajaran dari pengalaman, dan menjadikan teladan generasi terdahulu sebagai panduan hidup. Pilar ini membantu seseorang berpikir jernih dan menghadapi kehidupan dengan kepala dingin.

3. Keadilan

Orang beriman menegakkan keadilan berdasarkan ilmu, memahami syariat, dan berlaku sabar dalam menghadapi ujian. Keadilan tampak dalam keseimbangan kehidupan, menghormati hak orang lain, dan menjadi teladan masyarakat.

4. Jihad

Jihad tidak selalu berarti perang. Dalam konteks iman, jihad adalah usaha memperbaiki diri, menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan melawan dosa. Konsistensi dalam jihad sehari-hari menunjukkan kualitas iman yang matang.

Iman dalam Hati, Lisan, dan Perbuatan

Ali bin Abi Thalib menegaskan:

“Iman itu tampak dalam hati yang yakin, lisan yang jujur, dan amal perbuatan yang sesuai.”

Hati yang yakin menandakan ketenangan dan kepercayaan penuh pada ketentuan Allah. Lisan yang jujur tercermin dari ucapan lembut, tidak menyakiti orang lain, dan selalu berkata benar. Sementara amal perbuatan menjadi bukti paling nyata dari iman. Semakin banyak kebaikan yang dilakukan, semakin tampak pula kualitas iman seseorang.

Dengan memahami pandangan Ali bin Abi Thalib, seorang Muslim bisa terus memperbaiki diri: memperkuat keyakinan, menjaga ucapan, dan meningkatkan amal shalih. Hati menjadi bersih, lisan jujur, dan perbuatan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sejarah Singkat Ali bin Abi Thalib

Ali lahir di Mekkah sekitar tahun 600 M, dari keluarga Bani Hasyim. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW dan termasuk salah satu orang pertama yang memeluk Islam. Selama hidupnya, Ali dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud, dan bijaksana.

Ali juga terlibat aktif dalam dakwah Islam, menjadi penasihat Khalifah Utsman, hingga akhirnya menjabat sebagai Khulafaur Rasyidin keempat pada 25 Zulhijah 35 H. Ia juga berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, seperti menyempurnakan bahasa Arab dan membangun Kota Kufah sebagai pusat pendidikan dan pemerintahan.

Ali wafat pada 29 Januari 661 M setelah diserang saat salat Subuh di Masjid Agung Kufah. Sebelum meninggal, ia menekankan pentingnya pengampunan dan tidak membalas dendam.

Kesimpulan

Menurut Ali bin Abi Thalib, iman bukan sekadar konsep atau pengakuan formal. Iman terlihat dari keyakinan di hati, ucapan yang jujur, dan amal perbuatan yang nyata. Dengan menjalankan pilar-pilar iman—sabar, yakin, keadilan, dan jihad—seorang Muslim dapat memperkuat imannya, menjaga keseimbangan hidup, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Kalau kamu ingin terus memahami ajaran Islam dan contoh teladan sahabat Nabi, pantau terus update menarik selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Pengertian Iman kepada Kitab Allah SWT: Makna, Dalil, Hikmah, dan Penjelasan Lengkap

Baca Juga: Doa Hari Libur, agar Hati Tetap Teguh dengan Iman dan Takwa

FAQ

1. Siapakah Ali bin Abi Thalib?
Ali bin Abi Thalib adalah sepupu, sahabat, dan menantu Nabi Muhammad SAW. Ia termasuk salah satu orang pertama yang memeluk Islam dan kemudian menjadi Khulafaur Rasyidin keempat. Ali dikenal sebagai sosok bijaksana, sederhana, dan ahli dalam ilmu pengetahuan serta pengembangan bahasa Arab.

2. Apa makna iman menurut Ali bin Abi Thalib?
Menurut Ali bin Abi Thalib:

"Iman adalah ma'rifat dengan hati, pengakuan dengan lidah dan tindakan dengan anggota-anggota badan."
Ini berarti iman mencakup tiga aspek: keyakinan dalam hati, ucapan yang jujur, dan perbuatan baik yang nyata.

3. Bagaimana iman terlihat dalam kehidupan sehari-hari?
Iman terlihat melalui tiga hal utama:

  • Hati yang yakin: Percaya penuh pada Allah SWT dan ketenangan menghadapi ujian hidup.

  • Lisan yang jujur: Mengucapkan kalimat yang benar, lembut, dan tidak menyakiti orang lain.

  • Amal perbuatan: Melakukan perbuatan baik atau amal shalih sebagai bukti nyata dari keimanan.

4. Apa hubungan antara hati dan iman menurut Ali bin Abi Thalib?
Ali bin Abi Thalib menggambarkan iman melalui warna hati: hati yang bersih dan putih menunjukkan iman yang kuat, sedangkan hati yang gelap atau hitam menandakan kemunafikan dan dosa yang menumpuk.

5. Apa saja pilar iman yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Pilar iman yang diajarkan Ali bin Abi Thalib meliputi:

  • Sabar: Menahan diri, mengutamakan ketaatan, dan tetap teguh menghadapi ujian.

  • Yakin: Memahami makna setiap kejadian, belajar dari pengalaman, dan mengambil hikmah dari teladan masa lalu.

  • Keadilan: Menegakkan kebenaran, berlaku adil, dan menjadi teladan bagi masyarakat.

  • Jihad: Berjuang memperbaiki diri dan masyarakat, menegakkan kebaikan, serta mencegah kemungkaran.

6. Mengapa memahami pandangan Ali bin Abi Thalib tentang iman penting?
Pandangan Ali bin Abi Thalib membantu umat Islam memahami bahwa iman bukan sekadar ucapan syahadat, tetapi harus hidup dalam hati, tercermin dalam ucapan, dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

7. Bagaimana cara memperkuat iman sesuai ajaran Ali bin Abi Thalib?
Iman dapat diperkuat dengan menjaga keyakinan di hati, menjaga ucapan agar jujur dan lembut, melakukan amal baik secara konsisten, serta mengamalkan sabar, yakin, keadilan, dan jihad dalam kehidupan sehari-hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.