Akurat

Bahlil Tegaskan Golkar Bukan Milik Pribadi, Keluarga, atau Kelompok Bisnis: Partai Harus untuk Negara dan Rakyat

Herry Supriyatna | 20 Desember 2025, 14:16 WIB
Bahlil Tegaskan Golkar Bukan Milik Pribadi, Keluarga, atau Kelompok Bisnis: Partai Harus untuk Negara dan Rakyat

AKURAT.CO Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan, partai berlambang pohon beringin tidak boleh dikelola untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompok tertentu, termasuk kelompok bisnis.

Penegasan tersebut disampaikan Bahlil saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Sabtu (20/12/2025).

Bahlil menekankan, Partai Golkar lahir dari gagasan para pendiri bangsa sehingga harus dikelola untuk kepentingan negara dan kesejahteraan rakyat, bukan demi kepentingan segelintir pihak.

“Partai ini enggak boleh kita kelola untuk kepentingan satu kelompok tertentu. Partai ini dikelola untuk kepentingan negara. Bahaya kalau menyimpang,” kata Bahlil di hadapan peserta Rapimnas.

Ia mengingatkan seluruh kader agar tidak menjadikan partai sebagai alat memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu.

Menurutnya, Golkar harus kembali pada khittah perjuangan dan bersikap inklusif sesuai dengan sejarah kelahirannya.

Bahlil juga menegaskan tidak boleh ada pihak yang merasa memiliki Partai Golkar secara eksklusif, apalagi mengklaim partai sebagai milik keluarga atau kelompok tertentu.

Baca Juga: Bahlil: Partai Golkar Bukan Alat Kepentingan Pribadi dan Bisnis

“Golkar enggak boleh ada satu kelompok orang tertentu yang mengklaim seolah-olah partai ini milik mereka. Apalagi keluarga tertentu, itu enggak boleh,” tegasnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menyebut hanya rakyat dan negara yang berhak mengklaim kepemilikan atas Partai Golkar.

“Yang bisa mengklaim Golkar ini milik siapa? Seluruh rakyat Indonesia yang merasa bagian dari keluarga besar Golkar,” ujarnya.

Menurut Bahlil, penegasan tersebut penting agar seluruh kader memiliki kedudukan yang setara dan menjaga semangat kebersamaan di internal partai.

“Kalau kita ingin membesarkan partai ini dan mengembalikannya pada khittah perjuangan, maka kita harus inklusif, bukan eksklusif. Karena sejak awal Golkar memang tidak didirikan untuk kepentingan kelompok tertentu,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.