Akurat

Kehadiran Prabowo di KTT BRICS: Risiko dan Peluang dari Dinamika Geopolitik Global

Atikah Umiyani | 6 Juli 2025, 22:26 WIB
Kehadiran Prabowo di KTT BRICS: Risiko dan Peluang dari Dinamika Geopolitik Global

AKURAT.CO Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS 2025 merupakan momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi globalnya.

Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai, dalam lanskap dunia yang kian terfragmentasi, Indonesia berpeluang tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang kredibel dan independen.

"BRICS+ menjadi blok baru yang menggambarkan pergeseran kekuatan dunia ke arah multipolar. Dengan tetap memegang prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia bisa menjadi semacam 'Swiss-nya Asia' yang dipercaya semua pihak," ujar Didik dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/7/2025).

Didik mencatat, diplomasi Indonesia yang aktif di kawasan Global South dan keterlibatan dalam forum seperti BRICS adalah strategi bertahan sekaligus ekspansi, di tengah melemahnya pengaruh lembaga internasional konvensional seperti PBB, IMF, dan WTO.

KTT BRICS yang digelar pada 6–7 Juli 2025 mengusung tema "Strengthening Global South Cooperation Towards More Inclusive and Sustainable Governance", dan dihadiri lebih dari 30 kepala negara dan pimpinan organisasi internasional.

Menurut Didik, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi BRICS kini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

“Meski belum punya aliansi militer, BRICS punya kekuatan ekonomi besar. Indonesia perlu membaca ini sebagai peluang untuk membangun koalisi ekonomi alternatif di tengah ketegangan AS–Tiongkok,” ujarnya.

Baca Juga: Tampil Perdana di KTT BRICS, Prabowo Disambut Langsung Presiden Brasil Lula da Silva

Didik juga mengulas dampak dari persaingan dagang dan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang menurutnya telah memicu deglobalisasi parsial dan memunculkan pola baru seperti friend-shoring serta proteksionisme antarblok.

Namun, ia melihat bahwa kondisi “polycrisis” global ini justru membuka ruang strategis bagi Indonesia untuk mendorong industrialisasi hijau dan mempercepat transisi energi.

“Industri hijau adalah masa depan. Dengan cadangan nikel yang besar, pembangunan pabrik baterai EV, dan hilirisasi sumber daya alam, Indonesia punya fondasi kuat untuk menjadi pusat pertumbuhan baru,” jelas Didik.

Ia optimistis, dengan kebijakan ekonomi yang tepat dan tidak stagnan, Indonesia dapat keluar dari pertumbuhan ekonomi moderat (3–4 persen) menuju target ambisius di atas 6 persen dalam beberapa tahun ke depan.

Selain industri, Didik menekankan pentingnya kesinambungan program ketahanan pangan dan energi berkelanjutan.

Ia menyambut baik kebijakan pemerintah dalam menjaga harga gabah agar menguntungkan petani, namun mengingatkan pentingnya efisiensi dan produktivitas di tingkat hulu dan hilir.

“Program yang dikawal langsung Presiden adalah sinyal positif. Tapi perlu reformasi menyeluruh dari sisi produksi dan distribusi agar tidak hanya ‘stabil’ tapi juga efisien dan tahan krisis,” tambahnya.

Di tengah dunia yang bergerak menuju tatanan multipolar, Didik melihat Indonesia dan kawasan ASEAN memiliki posisi strategis.

Baca Juga: Festival Tabut 2025 Tembus 200 Ribu Pengunjung, Wamenpar: Magnet Pariwisata Bengkulu

Dengan populasi besar, pasar potensial, dan posisi geopolitik yang netral, kawasan ini dapat menjadi kekuatan regional yang ikut menentukan arah dunia.

“Kehadiran Presiden Prabowo dalam KTT BRICS adalah sinyal kuat bahwa Indonesia tidak ingin jadi penonton. Kita ingin menjadi pemain. BRICS menawarkan akses pendanaan alternatif, peluang investasi, dan kerja sama teknologi yang luas,” tutupnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.