Penghapusan Presidential Threshold Tantangan Tersendiri bagi Parpol

AKURAT.CO Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai penghapusan presidential threshold menjadi angin segar bagi demokrasi.
Namun, keputusan tersebut juga memberikan tantangan tersendiri bagi partai politik.
"Tentu akan menjadi tantangan bagi partai politik, yaitu bagaimana kita bisa merespons dinamika politik pascaputusan ini," ujar Ketua DPP PKB, Luluk Nur Hamidah, usai menghadiri diskusi Integrity Constituional Discussion 14: Kontroversi Pemilihan Presiden Pasca-Pembatalan Syarat Ambang Batas oleh MK di Jakarta, yang digelar Minggu (12/1/2025).
Ia mengatakan, mayoritas parpol di parlemen saat ini bergabung ke dalam koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Penghapusan Presidential Threshold Bisa Ciptakan Pilpres Dua Putaran
Luluk meyakini bahwa parpol tidak akan terburu-buru melakukan akrobat politik untuk pemilu lima tahun mendatang.
"Saya tidak melihat, dalam waktu dekat, partai politik mendeklarasikan karena calon presiden atau wakil presiden masih lama. Jadi, ini akan menjadi ruang publik yang lebih mengemuka dan menjadi diskusi konstitusional yang sangat menarik," jelasnya.
Luluk pun menyampaikan sejumlah catatan terkait penghapusan presidential threshold.
Pertama, putusan MK soal penghapusan ambang batas pencalona presiden belum ditindaklanjuti menjadi undang-undang.
Baca Juga: Penghapusan Presidential Threshold Jadi Peluang Partai Politik Berbenah
Menurutnya, masyarakat perlu bersabar menunggu pemerintah dan DPR menyusun regulasi dalam menindaklanjuti putusan tersebut.
Kedua, harapan-harapan masyarakat yang harus didengar.
Ia mengatakan bahwa diskusi-diskusi harus dibuka seluas-luasnya agar apapun yang menjadi harapan publik tersampaikan ke parlemen.
"Civil rights dari warga negara juga tidak diamputasi. Itu selaras dengan pengaturan lebih lanjut yang perlu dilakukan oleh DPR dan juga pemerintah," kata Luluk.
Baca Juga: Penghapusan Presidential Threshold Bisa Tingkatkan Partisipasi Politik
Ketiga, ia menilai bahwa penghapusan ambang batas menjadi tantangan bagi parpol, khususnya dalam merespons putusan MK.
Putusan MK membuka ruang yang luas bagi setiap parpol untuk mengajukan calon presiden dan wakil presiden di pemilu mendatang.
"Walaupun mungkin tidak sekarang karena kita bisa pahami ada kultur. Ya, politik kita hampir sebagian besar atau mayoritas partai politik, terlebih yang punya kursi di parlemen merupakan bagian dari koalisi pemerintah," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit





