AKURAT.CO Peneliti senior sekaligus pengamat politik Badan Research dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menilai, tidak perlu membentuk rumah transisi Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Menurutnya, tidak ada yang berubah dari program paslon nomor urut 2 itu, kecuali makan siang dan susu gratis untuk anak sekolah.
“Tentang apa perlu Rumah Transisi, saya kira tidak perlu ada, karena pasangan ini sebagai program kelanjutan dari presiden sebelumnya. Tidak banyak yang berubah, kecuali program makan siang gratis dan susu,” kata Romli saat dihubungi Akurat.co, Senin (18/3/2024).
Baca Juga: Simulasi Makan Siang Gratis, Dedi Mulyadi Usul Anggaran Diberikan ke Orang Tua
Menurutnya, justru fokus terhadap program tersebut akan lebih baik, dengan membentuk tim khusus misalnya.
“Mungkin untuk program makan siang gratis perlu dibentuk tim khusus untuk merealisasikannya, agar program ini berjalan, baik dari ketersediaan anggaran sampai pada ketepatan sasaran,” tuturnya.
Hal itu menjadi penting, sebab jika program tersebut tidak berjalan dengan baik, maka akan menimbulkan banyak kritik, karena program ini merupakan unggulan milik Prabowo-Gibran.
“Ini penting karena program populis ini krusial yang menjadi daya tarik pemilih sehingga tidak boleh bermasalah, apalagi gagal. Bila dalam pelaksanaan bermasalah akan menjadi pusat perhatian dan kritik dari publik dan partai oposisi,” pungkas Romli.
Baca Juga: Gen KAMI Desak Prabowo-Gibran Bentuk Rumah Transisi
Sebelumnya, Gen KAMI (Komunitas Aktivis Milenial Indonesia) mendesak Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming membentuk Rumah Transisi, seperti dilakukan Joko Widodo setelah unggul dalam pilpres 2014 untuk memerlancar transisi pemerintahan.
Menuru Gen KAMI, salah satu tugas tim Rumah Transisi adalah memerinci visi-misi Prabowo-Gibran selama kampanye dan debat presiden, lalu mempersiapkan formasi kabinet.