AKURAT.CO Mundurnya Mahfud MD sebagai Menko Polhukam turut membawa dampak bagi pasangan capres-cawapres nomor urut 1, Anies-Muhaimin (Amin). Sekalipun belum terlihat secara elektoral, mundurnya Mahfud bisa meningkatkan sentimen negatif untuk pemerintahan Presiden Jokowi.
Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago menyebut, terbuka kemungkinan adanya dampak elektoral baik yang diterima Mahfud, maupun paslon lain menyikapi dinamika politik terkini. Terlebih, sudah muncul gerakan moral dari aktivis maupun akademisi yang menyuarakan petisi.
"Banyak aktivis, kampus, akademisi, sudah menyuarakan pesan moral, atau menunjukkan adanya praktik menyimpang oleh presiden. Kalau ini semakin kuat harusnya elektabilitas Mahfud naik atau Anies," kata Pangi, di Jakarta, Jumat (2/2/2024).
Baca Juga: Jumat Barokah, Mahfud Merasa Plong!
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting menilai, ada tiga kesan yang ditangkap dari mundurnya Mahfud. Pertama, mundurnya Mahfud bukan sebatas mencari dampak elektoral tetapi melawan sikap pragmatisme dengan menjaga etika dan moralitas.
Kesan kedua, mengapa Mahfud tidak dari jauh-jauh hari sehingga menimbulkan kecurigaan untuk menaikan pamor paslon capres-cawapres nomor urut 3, sekaligus memukul Jokowi. Sedangkan kesan ketiga, bagaimana Mahfud memberi teladan di tengah bangsa krisis keteladanan.
Sekalipun begitu, Pangi turut menangkap kesan lain bahwa Mahfud berupaya menantang anggota kabinet lain, untuk mundur bersikap kesatria, dan tidak main kasar selama kampanye, memanfaatkan jabatan yang melekat.
Baca Juga: Prabowo Nyapres, Jokowi Pilih Tito Gantikan Mahfud
"Prof Mahfud paling tidak men-challange calon-calon lain, ayo mundur," ujarnya.
Pangi meyakini efek elektoral bisa dirasakan sejauh bagaiman masing-masing paslon menjaga dan mampu menyebarkan narasi untuk menggaet pemilih. Kalau paslon nomor 1 dan 3 mampu mengapitalkan aksi mundurnya Mahfud dalam bentuk suara, bukan tidak mungkin terjadi perubahan.
Baca Juga: Keppres Pemberhentian Mahfud Sudah Terbit, Tito Jadi Plt Menko Polhukam
Dirinya meyakini, situasi terkini belum mampu memastikan Pilpres 2024 bakal berlangsung dalam satu putaran. Pasalnya, tidak ada kandidat yang bisa tembus 50 persen, meski ada lembaga survei merilis data tersebut, dengan margin of error cukup besar.
Pangi juga memiliki pandangan lain terkait mundurnya Mahfud dari kabinet. Sikap tersebut bisa dibaca bahwa Presiden Jokowi tak lagi menjadi sosok yang bisa dipercaya.
"Mundurnya Mahfud bisa juga presiden tidak bisa dipercaya, tidak netral," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu









