Akurat Logo

Kenapa Saat Mendung Terasa Panas? Ini Penyebabnya

Redaksi Akurat | 28 Oktober 2026, 16:54 WIB
Kenapa Saat Mendung Terasa Panas? Ini Penyebabnya
Ilustrasi orang yang kepanasan ketika langit mendung - Gemini

AKURAT.CO Cuaca mendung biasanya identik dengan udara yang sejuk dan nyaman. Namun, pernahkah kamu merasa udara justru semakin panas dan gerah meskipun matahari tertutup awan?

Kondisi ini cukup sering terjadi, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta. Langit terlihat gelap, tetapi tubuh tetap terasa lengket dan mudah berkeringat. Lantas, kenapa saat mendung terasa panas?

Dikutip dari berbagai sumber, udara gerah saat mendung bisa disebabkan oleh kelembapan udara yang tinggi, proses penguapan keringat yang kurang maksimal, hingga panas yang masih tersimpan di lingkungan sekitar.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo: Selalu Ada Hikmah di Balik Setiap Awan Mendung

1. Kelembapan Udara Tinggi Membuat Tubuh Lebih Gerah

Salah satu penyebab utama kenapa saat mendung terasa panas adalah tingginya kelembapan udara. Kelembapan menunjukkan banyaknya uap air yang terkandung di udara.

Ketika kelembapan tinggi, keringat yang keluar dari tubuh menjadi lebih sulit menguap. Padahal, penguapan keringat merupakan cara alami tubuh untuk melepaskan panas.

Akibatnya, tubuh terasa lebih lengket dan gerah meskipun suhu udara sebenarnya tidak terlalu tinggi. Itulah sebabnya cuaca mendung terkadang terasa lebih pengap dibandingkan cuaca cerah dengan kelembapan yang lebih rendah.

2. Mendung Tidak Selalu Membuat Suhu Udara Turun

Banyak orang mengira langit mendung pasti membuat udara lebih dingin. Padahal, awan yang menutupi matahari tidak selalu langsung menurunkan suhu di sekitar kita.

Sebelum mendung, permukaan tanah, jalan beraspal, dan bangunan mungkin sudah menyerap panas matahari selama beberapa jam. Panas tersebut dapat dilepaskan kembali ke lingkungan sehingga udara tetap terasa hangat.

Kondisi ini lebih mudah dirasakan di perkotaan yang dipenuhi bangunan dan jalan beraspal. Karena itu, meskipun sinar matahari tidak terasa terik, udara masih bisa terasa panas.

3. Penguapan Keringat Menjadi Kurang Maksimal

Tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk mengatur suhu, salah satunya melalui keringat. Saat keringat menguap dari permukaan kulit, panas tubuh ikut dilepaskan.

Namun, ketika udara mengandung banyak uap air, proses penguapan keringat menjadi kurang efektif. Akibatnya, panas tubuh lebih sulit dilepaskan dan rasa gerah semakin terasa.

Kondisi ini bisa membuat seseorang merasa cepat lelah ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama jika udara juga minim angin.

Perlu diketahui, rasa gerah tidak selalu berarti suhu udara benar-benar lebih tinggi. Kelembapan dan pergerakan udara juga memengaruhi seberapa panas kondisi tersebut terasa bagi tubuh.

Baca Juga: Perkuat Literasi Publik, Rano Karno Apresiasi Dukungan Bank Jakarta dalam Anugerah Jurnalistik MHT 2026

Cara Mengatasi Udara Gerah Saat Mendung

Ada beberapa cara sederhana untuk mengurangi rasa gerah saat cuaca mendung. Pertama, gunakan pakaian yang ringan dan nyaman agar keringat lebih mudah menguap.

Kedua, pastikan sirkulasi udara di rumah berjalan dengan baik. Kipas angin bisa membantu menggerakkan udara, sedangkan pendingin ruangan dapat membantu menurunkan suhu dan, bergantung pada pengaturannya, mengurangi kelembapan.

Selain itu, jangan lupa minum air yang cukup untuk mengganti cairan tubuh yang hilang melalui keringat. Jika udara terasa sangat panas, kurangi aktivitas fisik berat dan beristirahatlah di tempat yang lebih sejuk.

Jadi, kenapa saat mendung terasa panas? Penyebabnya bukan hanya suhu udara, tetapi juga kelembapan yang tinggi, penguapan keringat yang kurang maksimal, serta panas yang masih tersimpan di lingkungan sekitar.

Karena itu, langit mendung tidak selalu berarti udara akan terasa sejuk. Dengan memahami penyebab udara gerah, kita bisa lebih mudah menyesuaikan aktivitas dan menjaga tubuh tetap nyaman.

Primandha Rachma Auzia (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R