Sesaat di Jiangsu: Sebuah Refleksi tentang Kemauan, Kemajuan dan Ketulusan

ADA kala perjalanan singkat ke sebuah negeri asing bisa meninggalkan kesan yang bertahan jauh lebih lama daripada waktu yang kita habiskan di sana.
Saya menginjak Nanjing pada Minggu (18/10/2026), menjelang sore. Ini kota bersejarah, ibu kota Provinsi Jiangsu yang dibelah Sungai Yangtze. Letaknya di timur Tiongkok.
Ada apa di Nanjing? Saya diutus PWI Pusat untuk menghadiri Belt and Road Journalists Forum (BRJF), yang tahun ini kebetulan digelar di ‘ibu kota bebek’ itu. BRJF 2026 melibatkan lebih dari 100 wartawan dari banyak negara mewakili semua benua.
Sebelumnya, pagi benar di hari itu, saya mendarat di Bandara Pudong Shanghai. Dari situ, ada yang menjemput. Tadinya saya pikir akan berkendara dari Shanghai ke Nanjing. Naik mobil listrik merek lokal, 30 menit kemudian saya diturunkan di Shanghai Hongqiao Railway Station.
Di Hongqiao saya harus menunggu berjam-jam. Kereta cepat Fuxing baru tiba setelah lewat tengah hari. Perjalanan ke Nanjing memakan waktu satu jam, dengan kecepatan rata-rata 304 Km per jam.
Tiba di International Youth Convention Hotel Nanjing hampir sore. Terima kunci, masuk kamar, saya langsung rebah. Maklum, tidak bisa tidur selama penerbangan. Lelah tapi bersemangat.
Sebagai jurnalis Indonesia, saya mengenal Tiongkok melalui pemberitaan media, buku, dokumenter, dan berbagai informasi di ruang digital. Saya mengikuti perkembangan ekonominya, mendengar kemajuan teknologinya, serta pengaruhnya yang semakin besar dalam percaturan internasional. Tapi, mengenal sebuah negara melalui informasi media tidak sama dengan hadir secara langsung, melihat kehidupan di dalamnya, dan berinteraksi dengan orang-orang yang menjadi bagian dari masyarakatnya.
Nanjing Eye, jembatan penyeberangan khusus pejalan kaki dan pesepeda yang ikonik di Nanjing, Tiongkok.
Kunjungan sepekan memang terlalu singkat untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang Tiongkok. Pun hanya dua kota di Jiangsu yang saya singgahi, Nanjing dan Nantong. Yang terakhir ini berada di Kawasan Delta Sungai Yangtze; wilayah geografis dan ekonomi yang sangat subur di Tiongkok bagian timur, tepat di muara tempat Sungai Yangtze mengalir ke Laut Tiongkok Timur.
Tetapi, dalam keterbatasan waktu saya tetap bisa menemukan sejumlah hal yang layak direnungkan. Bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangsa membangun kekuatannya, tetapi juga bagaimana kekuatan tersebut ditempatkan dalam hubungan dengan bangsa-bangsa lain.
Dari Jiangsu, saya membawa pulang tiga pelajaran yang menetap di pikiran: kemauan, kemajuan, dan ketulusan. Ketiganya terdengar sederhana, tapi menyimpan gambaran besar tentang masa depan sebuah bangsa dan masa depan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9DPR Ajak Semua Pihak Merawat Persatuan Lewat Kerja Nyata di Hari Sumpah Pemuda
- 10Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan





