Akurat

Asal Mula Kehidupan di Laut Purba dan Misteri Samudra yang Belum Terungkap

Eko Krisyanto | 3 Januari 2026, 16:38 WIB
Asal Mula Kehidupan di Laut Purba dan Misteri Samudra yang Belum Terungkap

AKURAT.CO Jauh sebelum daratan dipenuhi tumbuhan, hewan, dan manusia, kehidupan pertama di Bumi diyakini muncul di laut purba.

Samudra purba menjadi panggung awal tempat reaksi kimia sederhana perlahan berkembang menjadi sistem kehidupan yang kompleks.

Hingga hari ini, laut masih menyimpan banyak rahasia tentang bagaimana kehidupan bermula, sekaligus menjelaskan mengapa pengetahuan manusia tentang kedalaman samudra justru tertinggal dibanding eksplorasi luar angkasa.

Baca Juga: Bagaimana Kehidupan Purba Sebelum Ada Oksigen di Bumi?

Laut Purba sebagai Rahim Kehidupan Awal

Sekitar empat miliar tahun lalu, Bumi berada dalam kondisi yang sangat berbeda dengan sekarang.

Atmosfer hampir tidak mengandung oksigen, suhu planet jauh lebih ekstrem, dan aktivitas vulkanik berlangsung intens.

Dalam kondisi tersebut, laut purba berperan sebagai lingkungan yang relatif stabil dibanding daratan yang terus berubah akibat tumbukan meteorit dan aktivitas tektonik.

Air laut menyediakan medium yang memungkinkan molekul-molekul kimia bergerak, bertabrakan, dan bereaksi.

Garam mineral, panas dari interior Bumi, serta tekanan tinggi menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya senyawa organik sederhana dengan bahan dasar kehidupan.

Inilah sebabnya banyak ilmuwan sepakat bahwa laut purba merupakan tempat paling masuk akal bagi lahirnya kehidupan pertama.

Peran Lubang Hidrotermal di Dasar Samudra

Salah satu lingkungan laut purba yang paling banyak dibahas dalam penelitian asal-usul kehidupan adalah lubang hidrotermal. Struktur ini terbentuk di dasar laut ketika air laut meresap ke dalam kerak Bumi, dipanaskan oleh magma, lalu kembali menyembur keluar membawa mineral dan energi kimia.

Lubang hidrotermal menciptakan gradien suhu dan kimia yang tajam dengan kondisi yang dianggap krusial untuk mendorong reaksi kimia kompleks.

Di sekitar cerobong alami ini, mineral seperti besi dan sulfur berfungsi sebagai katalis, mempercepat pembentukan molekul organik seperti asam amino.

Dari molekul-molekul sederhana inilah rantai panjang menuju kehidupan seluler diyakini bermula.

Organisme Pertama di Muka Bumi

Kehidupan tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil akumulasi proses kimia yang berlangsung sangat lama.

Molekul organik sederhana saling berikatan, membentuk struktur yang semakin kompleks, hingga akhirnya mampu mereplikasi diri dan mempertahankan kestabilan internal.

Organisme pertama diperkirakan berupa mikroba sederhana yang hidup tanpa oksigen dan bergantung pada energi kimia, bukan cahaya matahari.

Hingga kini, keturunan jauh dari kehidupan purba tersebut masih dapat ditemukan di lingkungan ekstrem laut dalam, seperti di sekitar ventilasi hidrotermal yang gelap, panas, dan bertekanan tinggi.

Bukti Kehidupan Awal dari Lautan Kuno

Jejak kehidupan laut purba tidak selalu berbentuk fosil makhluk besar. Sebagian besar bukti berasal dari struktur mikroskopis, lapisan batuan sedimen, serta pola kimia tertentu yang menunjukkan aktivitas biologis.

Stromatolit atau lapisan batuan berlapis hasil aktivitas mikroorganisme, menjadi salah satu bukti kuat bahwa kehidupan mikroba telah berkembang di laut miliaran tahun lalu.

Selain itu, komposisi isotop tertentu dalam batuan laut purba menunjukkan adanya proses biologis yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh reaksi kimia non-hidup. Temuan-temuan ini memperkuat gagasan bahwa laut merupakan pusat awal evolusi kehidupan di Bumi.

Baca Juga: 7 Lukisan Tertua di Dunia: Dari Sulawesi hingga Spanyol, Jejak Kreativitas Purba

Laut Lebih Misterius daripada Luar Angkasa

Meski laut menutupi lebih dari dua pertiga permukaan Bumi, pengetahuan manusia tentang kedalamannya masih sangat terbatas.

Ironisnya, manusia justru lebih detail memetakan permukaan Bulan dan Mars dibanding dasar samudra terdalam.

Ada beberapa alasan utama mengapa penelitian laut, khususnya laut dalam, berkembang lebih lambat.

Tekanan ekstrem, suhu rendah, kegelapan total, dan medan yang sulit dijangkau menjadikan eksplorasi laut dalam sangat mahal dan berisiko.

Teknologi yang dibutuhkan harus mampu bertahan di bawah tekanan ribuan meter air, sesuatu yang jauh lebih menantang dibanding mengirim wahana ke orbit luar angkasa.

Selain itu, laut bersifat dinamis dan tertutup. Arus laut, sedimen, serta aktivitas biologis terus mengubah lanskap dasar samudra, membuat penelitian jangka panjang menjadi rumit.

Berbeda dengan benda langit yang relatif stabil dan dapat diamati dari kejauhan, laut menuntut kehadiran langsung di lokasi.

Mengapa Penelitian Asal Kehidupan Kembali ke Laut

Dalam beberapa dekade terakhir, minat ilmiah terhadap laut purba kembali meningkat.

Studi tentang asal-usul kehidupan di laut tidak hanya bertujuan memahami masa lalu Bumi, tetapi juga membantu pencarian kehidupan di luar planet ini.

Jika kehidupan dapat muncul di laut gelap tanpa sinar matahari, maka kemungkinan serupa bisa terjadi di dunia lain yang memiliki samudra tersembunyi di bawah lapisan es.

Pendekatan ini menjadikan laut sebagai jembatan antara geologi, biologi, dan astronomi.

Penelitian laut purba kini dipandang sebagai kunci untuk menjawab pertanyaan paling mendasar umat manusia, yakni dari mana kehidupan berasal dan seberapa umum kehidupan di alam semesta.

Laut Purba sebagai Kunci Masa Depan Ilmu Pengetahuan

Asal mula kehidupan di laut purba menunjukkan bahwa kehidupan bukanlah hasil kebetulan tunggal, melainkan konsekuensi dari proses alam yang panjang dan saling terhubung.

Meski teknologi terus berkembang, sebagian besar rahasia laut masih tersembunyi di kedalaman.

Ketertinggalan manusia dalam mengungkap laut dibanding luar angkasa justru menegaskan satu hal bahwa planet tempat kita hidup masih menyimpan misteri besar yang belum sepenuhnya dipahami.

Laut purba bukan hanya cerita masa lalu, melainkan kunci untuk memahami asal-usul kehidupan, batas kemampuan sains, dan kemungkinan kehidupan di tempat lain di alam semesta.

Mutiara MY (Magang)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R