Akurat

Asal Mula Bumi Menurut Sains: Kisah Panjang Evolusi Sebuah Planet

Eko Krisyanto | 29 Desember 2025, 19:25 WIB
Asal Mula Bumi Menurut Sains: Kisah Panjang Evolusi Sebuah Planet

AKURAT.CO Planet Bumi yang hari ini menopang kehidupan bukanlah hasil dari satu peristiwa tunggal, melainkan rangkaian proses kosmik yang berlangsung sangat lama.

Jauh sebelum manusia mengenal waktu, bahkan sebelum Matahari bersinar stabil, materi penyusun Bumi telah ada dalam bentuk debu dan gas yang tersebar di ruang angkasa.

Ilmu pengetahuan modern berusaha merekonstruksi proses tersebut melalui berbagai teori, pengamatan astronomi, serta bukti geologis yang masih tersimpan hingga kini.

Baca Juga: Teori Pembentukan Bumi yang Paling Diterima Oleh Ilmuwan hingga Saat Ini

Latar Kosmik Kelahiran Bumi

Asal-usul Bumi berkaitan erat dengan terbentuknya Tata Surya. Sekitar 4,6 miliar tahun lalu, sebuah awan raksasa yang terdiri atas gas dan debu kosmik mengalami keruntuhan akibat gaya gravitasi.

Awan ini kemudian berputar dan memipih, membentuk piringan besar dengan Matahari muda di pusatnya. Dari piringan inilah cikal bakal planet-planet mulai terbentuk.

Materi yang berada di sekitar Matahari tidak tersebar secara merata. Partikel-partikel kecil saling bertumbukan dan menyatu, membentuk bongkahan yang semakin besar. Proses akresi ini menjadi fondasi utama kelahiran planet berbatu, termasuk Bumi.

Teori Nebula: Fondasi Utama Pembentukan Planet

Salah satu teori paling awal dan berpengaruh dalam menjelaskan asal-usul Bumi adalah teori nebula. Teori ini menyatakan bahwa Tata Surya terbentuk dari kabut gas raksasa yang berputar.

Seiring waktu, pusat kabut memadat dan menjadi Matahari, sementara sisa materi di sekelilingnya menggumpal menjadi planet.

Teori nebula memberikan kerangka dasar yang hingga kini masih digunakan, meskipun telah mengalami banyak penyempurnaan seiring berkembangnya ilmu astronomi dan fisika modern.

Teori Planetesimal dan Proses Tumbukan Awal

Pengembangan dari teori nebula melahirkan teori planetesimal, yang menjelaskan bagaimana partikel kecil debu kosmik dapat berkembang menjadi planet utuh. Menurut teori ini, debu dan batuan kecil di sekitar Matahari muda saling bertumbukan, membentuk planetesimal berukuran kilometer.

Planet-planet kemudian tumbuh melalui akresi, yaitu penambahan massa akibat tumbukan berulang.

Pada tahap ini, Bumi masih berupa planet muda dengan permukaan cair dan penuh aktivitas vulkanik.

Tumbukan besar, termasuk dengan objek seukuran planet kecil, diyakini berperan penting dalam membentuk struktur awal Bumi, bahkan dalam pembentukan Bulan.

Teori Protoplanet dan Diferensiasi Internal

Seiring bertambahnya massa, Bumi berkembang menjadi protoplanet yang panas dan tidak stabil.

Energi dari tumbukan dan peluruhan unsur radioaktif menyebabkan bagian dalam Bumi meleleh. Dalam kondisi ini, terjadi proses diferensiasi, yaitu pemisahan material berdasarkan massa jenis.

Unsur berat seperti besi dan nikel tenggelam ke pusat dan membentuk inti, sementara material yang lebih ringan membentuk mantel dan kerak. Struktur internal inilah yang kemudian memungkinkan terbentuknya medan magnet, aktivitas tektonik, dan stabilitas jangka panjang planet.

Pembentukan Atmosfer dan Lautan Purba

Atmosfer awal Bumi terbentuk melalui proses pelepasan gas dari aktivitas vulkanik intensif. Gas-gas seperti uap air, karbon dioksida, nitrogen, dan senyawa lainnya menyelimuti planet yang masih panas.

Ketika suhu mulai menurun, uap air mengembun dan turun sebagai hujan selama jutaan tahun, membentuk samudra purba.

Selain itu, sejumlah ilmuwan meyakini bahwa air Bumi juga diperkaya oleh tumbukan asteroid dan komet yang membawa es dari wilayah luar Tata Surya.

Kombinasi proses internal dan eksternal inilah yang menghasilkan cadangan air melimpah di planet ini.

Posisi Bumi dan Stabilitas Lingkungan

Bumi menempati posisi yang relatif ideal dalam Tata Surya. Jaraknya dari Matahari memungkinkan suhu yang stabil, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

Medan magnet melindungi atmosfer dari radiasi berbahaya, sementara pergerakan lempeng tektonik membantu mengatur suhu global melalui siklus karbon jangka panjang.

Kondisi-kondisi ini tidak muncul secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari evolusi planet yang panjang dan kompleks.

Setelah permukaan Bumi cukup stabil dan lautan terbentuk, reaksi kimia kompleks mulai terjadi.

Bukti geologis menunjukkan bahwa kehidupan sederhana telah muncul lebih dari 3,5 miliar tahun lalu.

Meski mekanisme pasti kemunculan kehidupan masih diteliti, lingkungan Bumi awal menyediakan kondisi yang memungkinkan proses tersebut berlangsung.

Baca Juga: Siklus Air: Proses Alam yang Menggerakkan Kehidupan di Bumi

Perspektif Agama tentang Penciptaan Bumi

Dalam pandangan agama, Bumi dipahami sebagai ciptaan Tuhan melalui kehendak dan ketetapan-Nya.

Kitab suci banyak menggambarkan penciptaan langit dan bumi sebagai proses bertahap.

Sejumlah pemikir keagamaan modern memandang bahwa penjelasan ilmiah mengenai tahapan pembentukan alam semesta tidak bertentangan dengan keimanan, melainkan memperkaya pemahaman manusia tentang kebesaran penciptaan.

Ilmu pengetahuan menjelaskan mekanisme alam, sementara agama memberi makna dan tujuan di balik keberadaan alam semesta.

Kesadaran akan asal-usul tersebut menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan Bumi sebagai satu-satunya rumah yang diketahui mampu menopang kehidupan.

Mutiara MY (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R