Akurat

Sejarah Perlombaan Senjata Nuklir di Era Perang Dingin

Ratu Tiara | 28 Desember 2025, 17:16 WIB
Sejarah Perlombaan Senjata Nuklir di Era Perang Dingin

AKURAT.CO Perlombaan senjata nuklir merupakan salah satu ciri paling menonjol dari era Perang Dingin.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak berkembang menjadi perang terbuka, tetapi diwujudkan melalui akumulasi kekuatan militer, khususnya senjata nuklir. Perlombaan ini membentuk dinamika politik global selama lebih dari empat dekade dan meninggalkan dampak besar hingga saat ini.

Baca Juga: Kim Jong Un Tinjau Fasilitas Uranium, Korea Utara Kembali Fokus pada Senjata Nuklir

Latar Belakang Perlombaan Senjata Nuklir

Perlombaan senjata nuklir berawal dari Perang Dunia II, ketika Amerika Serikat mengembangkan bom atom melalui Proyek Manhattan.

Penggunaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 menunjukkan kekuatan destruktif senjata nuklir.

Setelah Perang Dunia II berakhir, hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet memburuk.

Perbedaan ideologi antara kapitalisme versus komunisme memicu ketegangan global yang dikenal sebagai Perang Dingin.

Dalam konteks inilah, senjata nuklir menjadi simbol kekuatan dan alat penangkal utama.

Awal Perlombaan Nuklir

Uni Soviet berhasil menguji coba bom atom pertamanya pada tahun 1949. Keberhasilan ini mengakhiri monopoli nuklir Amerika Serikat dan memicu perlombaan senjata nuklir secara terbuka.

Sejak saat itu, kedua negara berlomba-lomba mengembangkan senjata dengan daya hancur yang semakin besar, termasuk:

  • Bom hidrogen (thermonuklir)
  • Rudal balistik antarbenua (ICBM)
  • Kapal selam bertenaga nuklir

Konsep Deterrence dan Mutually Assured Destruction (MAD)

Salah satu konsep kunci dalam perlombaan senjata nuklir adalah deterrence atau pencegahan. Gagasan ini menyatakan bahwa kepemilikan senjata nuklir dapat mencegah serangan musuh karena risiko kehancuran total.

Konsep ini kemudian berkembang menjadi Mutually Assured Destruction (MAD), yaitu kondisi di mana kedua pihak memiliki kemampuan untuk saling menghancurkan jika perang nuklir terjadi.

Paradoksnya, keseimbangan teror inilah yang justru mencegah pecahnya perang nuklir langsung.

Krisis Nuklir dalam Perang Dingin

Krisis Rudal Kuba (1962)

Krisis Rudal Kuba menjadi momen paling berbahaya dalam sejarah Perang Dingin.

Penempatan rudal nuklir Uni Soviet di Kuba memicu konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.

Dunia berada di ambang perang nuklir sebelum akhirnya krisis diselesaikan melalui diplomasi.

Perlombaan Persenjataan Berkelanjutan

Sepanjang dekade 1960–1980-an, AS dan Uni Soviet terus meningkatkan jumlah dan kualitas senjata nuklir.

Anggaran militer meningkat drastis, sementara negara-negara lain mulai terlibat dalam pengembangan nuklir.

Upaya Pengendalian Senjata Nuklir

Menyadari bahaya perlombaan senjata, kedua pihak mulai melakukan perundingan pengendalian senjata, antara lain:

  • Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT)
  • Strategic Arms Limitation Talks (SALT)
  • Strategic Arms Reduction Treaty (START)

Perjanjian-perjanjian ini bertujuan membatasi jumlah senjata nuklir dan mengurangi risiko perang nuklir.

Akhir Perlombaan Nuklir dan Runtuhnya Uni Soviet

Menjelang akhir Perang Dingin, Uni Soviet mengalami krisis ekonomi dan politik.

Pada tahun 1991, Uni Soviet runtuh, menandai berakhirnya Perang Dingin dan perlombaan senjata nuklir dalam bentuknya yang paling intens.

Meski demikian, senjata nuklir tetap menjadi isu global yang relevan hingga saat ini.

Baca Juga: Rencana Pemusnahan Senjata Nuklir Dunia Meleset, Sekjen PBB Salahkan Perang Rusia-Ukraina

Dampak Perlombaan Senjata Nuklir

Perlombaan senjata nuklir membawa dampak besar, di antaranya:

  • Ketegangan global yang berkepanjangan
  • Ancaman kehancuran massal
  • Perkembangan teknologi militer dan sipil
  • Munculnya gerakan perdamaian dan anti-nuklir

Sejarah perlombaan senjata nuklir di era Perang Dingin menunjukkan bagaimana ketakutan, kekuasaan, dan teknologi membentuk politik global.

Pemahaman sejarah ini penting untuk mencegah terulangnya konflik berskala besar di masa depan.

Arika Yafi Fawazzain (Magang)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R